Semoga dia belum mati.
Langit terlihat agak mendung, tak banyak bintang yg bersinar aku berharap malam ini tidak hujan, karena jika hujan berarti aku harus segera menyudahi catatan ini, ku tak mau laptopku rusak hanya gara2 kena air, mari sama2 kita berdoa supaya malam ini tidak hujan, amin.
aku menuliskan ini dari ketinggian enam lantai, yah enam lantai dan langsung beratapkan langit, aku suka berada disini apalagi ketika kurebahkan badan, telentang dan pandangan ku langsung menatap langit luas, tiba2 saja semua yang di bumi ini ku rasa kecil saja termasuk semua masalah yang sedang ku hadapi tak lebih dari lelucon kehidupan, langit seolah barkata padaku “hai manusia pandang aku dan rasakan luas ku” yah aku telah merasakan luas mu langit terimakasih karena untuk sesaat kau telah mengganti penat hidupku dengan perasaan nyaman ini, pikiranku terasa ringan, seolah aku terbang di jagat tanpa batas fatamorgana yang menyenangkan.
dikiri dan kanan bangunan ini tak ada dinding tinggi hanya ada pembatas setinggi tiga puluh senti, pernah ku berpikir ini tempat yang sempurna untuk bunuh diri, terpeleset dan mati adalah kemungkinan yang tak ingin kucoba,hehe bangunan ini yang entah karena alasan tidak mengantongi ijin resmi atau kurang biaya sehingga menjadi terbengkalai seperti ini, tempat ini seperti tempat persembunyian ku, seorang teman yg sama2 pelari yang memperkenalkan tempat ini.
Dari atas sini semua terlihat mengecil, mobil2 hanya setara korek api duren tiga yang sedang berjalan, orang2 berjalan cepat entah apa yg mereka kejar, orang jelek orang cantik terlihat sama dari sini, kadang2 aku juga beruntung dapat menyaksikan kejadian2 insidensial seperti orang mencuri motor di parkiran, sungguh santai cara dia beraksi, aku baru tau kalau dia pencuri setelah beberapa saat setelah itu terjadi kerumunan orang dan seseorang yang terlihat bingung karena motornya raib entah kemana, ku kasih sedikit bocoran, gedung ini berada di depan sebuah Mall.
Di ujung jalan terlihat pos polisi yg menjaga perempatan jalan, pos itu di jaga oleh dua polisi berseragam lengkap dengan rombi hijau terang, tapi itu Cuma sampai jam sembilan malam, lewat dari itu pos tersebut akan ramai oleh penjaja cinta satu malam, sungguh lucu membayang kan sebuah tempat yg mempunyai dwipungsi itu.
Aku duduk di ujung pembatas dengan kaki terjuntai di ketinggian, diantara kedua lututku aku bisa melihat orang lalu lalang, aku seperti sedang mengangkangi mereka,hahaa aku kadang tertawa sendiri membayangkan begitu banyak orang yang aku kangkangi dan tak satupun dari mereka yang marah,hihihi aku suka saat bisa memandang orang lain dan mereka tidak bisa memandang ku, karena beberapa meter dibawahku terdapat beberapa lampu yang menyorot ke jalan. Aku bersembunyi dibalik terangnya lampu, itu seperti kau yang tak terlihat, invisibleman.
Tak ada yang benar2 ku lakukan disini, aku Cuma ingin sendiri jauh dari keramaian tapi tidak terlalu jauh, aku penyendiri yang takut sunyi, terdengar lucu yah seperti pengen bunuh diri tapi takut mati,hehe pada malam yang lain disuatu dulu yang aku lupa tanggalnya, di tempat ini aku selalu di temani oleh seseorang yang teman, berbekal dua bungkus rokok dan beberapa gelas kopi yang tersimpan dalam wadah stainless yang bentuknya mirip moncong rudal itu kami menaklukan malam, tapi tidak malam ini, malam ini dia tidak disini.
Entah kemana dia, tak ada kabar beritanya, di zaman serba informatika ini mestinya mudah saja mencari orang, tapi dia seperti hilang tanpa jejak. Atau mungkin dia telah menemukan tempat pelarian baru, dan tak ingin di ganggu oleh orang lain, tapi akukan bukan orang lain.
Dia selalu suka sendiri, dan sepertinya memang dia tak berbakat punya banyak teman, bukan karena dia tinggal di dalam hutan atau di pulau terpencil, tidak. Dia hidup selayaknya orang kebanyakan dalam lingkungan masyarakat yang biasa2 juga, tapi mungkin dia-nya yang tidak biasa, bukan dia tidak punya teman sama sekali, dia mempunyai teman tapi temannya teramat sedikit untuk ukuran manusia normal, entahlah pasti dia akan marah kalau mendengar kata normal’ tentang kebenciannya dengan kata “normal” akan ku ceritakan di lain waktu saja, (tolong ingatkan saya), hari ini aku Cuma mau menceritakan dia dan teman kesepiannya, entah mengapa tiba2 aku teringat pada dia, tapi sudahlah kita anggap saja dia sebagi inspirasi menunggu pagi. Kau tau kadang2 tanpa sebab yg jelas, kita bisa saja tiba2 mengingat sesuatu atau seseorang, mungkin dalam bahasa lainnya di sebut firasat, firasat yg mungkin bermakna sesuatu, aku juga merasa begitu jangan2 terjadi sesuatu pada dirinya, aku berharap semoga dia belum mati. Kalau pun dia mati semoga catatan ini bisa menjadi sebuah pengingat atau paling tidak penanda bahwa dia pernah hidup di dunia ini.
Tentang dia.
Dia tidak begitu suka hal2 yang berbau komunitas, bergerombol dan hal2 yang berbau keroyokan, hal itu terbukti selama 12tahun makan bangku sekolahan dia tak pernah menghadiri acara tawuran. Pelupa adalah musuh terbesarnya, lupa nama teman adalah bencana terbesarnya dan sepertinya hidupnya dipenuhi oleh bencana itu, mungkin itu juga salah satu penyebab tak ada orang yang betah berlama2 menjadi temannya.
Dia suka sendirian tapi dia benci kesepian, sendiri dan kesepian adalah dua hal yang berbeda menurutnya, kamu bisa saja berada di keramaian tapi merasa kesepian, tapi kalaulah dipaksa memilih, dia akan memilih sendirian tapi tidak kesepian dibanding diramai tapi kesepian.
Bersambung................
aku menuliskan ini dari ketinggian enam lantai, yah enam lantai dan langsung beratapkan langit, aku suka berada disini apalagi ketika kurebahkan badan, telentang dan pandangan ku langsung menatap langit luas, tiba2 saja semua yang di bumi ini ku rasa kecil saja termasuk semua masalah yang sedang ku hadapi tak lebih dari lelucon kehidupan, langit seolah barkata padaku “hai manusia pandang aku dan rasakan luas ku” yah aku telah merasakan luas mu langit terimakasih karena untuk sesaat kau telah mengganti penat hidupku dengan perasaan nyaman ini, pikiranku terasa ringan, seolah aku terbang di jagat tanpa batas fatamorgana yang menyenangkan.
dikiri dan kanan bangunan ini tak ada dinding tinggi hanya ada pembatas setinggi tiga puluh senti, pernah ku berpikir ini tempat yang sempurna untuk bunuh diri, terpeleset dan mati adalah kemungkinan yang tak ingin kucoba,hehe bangunan ini yang entah karena alasan tidak mengantongi ijin resmi atau kurang biaya sehingga menjadi terbengkalai seperti ini, tempat ini seperti tempat persembunyian ku, seorang teman yg sama2 pelari yang memperkenalkan tempat ini.
Dari atas sini semua terlihat mengecil, mobil2 hanya setara korek api duren tiga yang sedang berjalan, orang2 berjalan cepat entah apa yg mereka kejar, orang jelek orang cantik terlihat sama dari sini, kadang2 aku juga beruntung dapat menyaksikan kejadian2 insidensial seperti orang mencuri motor di parkiran, sungguh santai cara dia beraksi, aku baru tau kalau dia pencuri setelah beberapa saat setelah itu terjadi kerumunan orang dan seseorang yang terlihat bingung karena motornya raib entah kemana, ku kasih sedikit bocoran, gedung ini berada di depan sebuah Mall.
Di ujung jalan terlihat pos polisi yg menjaga perempatan jalan, pos itu di jaga oleh dua polisi berseragam lengkap dengan rombi hijau terang, tapi itu Cuma sampai jam sembilan malam, lewat dari itu pos tersebut akan ramai oleh penjaja cinta satu malam, sungguh lucu membayang kan sebuah tempat yg mempunyai dwipungsi itu.
Aku duduk di ujung pembatas dengan kaki terjuntai di ketinggian, diantara kedua lututku aku bisa melihat orang lalu lalang, aku seperti sedang mengangkangi mereka,hahaa aku kadang tertawa sendiri membayangkan begitu banyak orang yang aku kangkangi dan tak satupun dari mereka yang marah,hihihi aku suka saat bisa memandang orang lain dan mereka tidak bisa memandang ku, karena beberapa meter dibawahku terdapat beberapa lampu yang menyorot ke jalan. Aku bersembunyi dibalik terangnya lampu, itu seperti kau yang tak terlihat, invisibleman.
Tak ada yang benar2 ku lakukan disini, aku Cuma ingin sendiri jauh dari keramaian tapi tidak terlalu jauh, aku penyendiri yang takut sunyi, terdengar lucu yah seperti pengen bunuh diri tapi takut mati,hehe pada malam yang lain disuatu dulu yang aku lupa tanggalnya, di tempat ini aku selalu di temani oleh seseorang yang teman, berbekal dua bungkus rokok dan beberapa gelas kopi yang tersimpan dalam wadah stainless yang bentuknya mirip moncong rudal itu kami menaklukan malam, tapi tidak malam ini, malam ini dia tidak disini.
Entah kemana dia, tak ada kabar beritanya, di zaman serba informatika ini mestinya mudah saja mencari orang, tapi dia seperti hilang tanpa jejak. Atau mungkin dia telah menemukan tempat pelarian baru, dan tak ingin di ganggu oleh orang lain, tapi akukan bukan orang lain.
Dia selalu suka sendiri, dan sepertinya memang dia tak berbakat punya banyak teman, bukan karena dia tinggal di dalam hutan atau di pulau terpencil, tidak. Dia hidup selayaknya orang kebanyakan dalam lingkungan masyarakat yang biasa2 juga, tapi mungkin dia-nya yang tidak biasa, bukan dia tidak punya teman sama sekali, dia mempunyai teman tapi temannya teramat sedikit untuk ukuran manusia normal, entahlah pasti dia akan marah kalau mendengar kata normal’ tentang kebenciannya dengan kata “normal” akan ku ceritakan di lain waktu saja, (tolong ingatkan saya), hari ini aku Cuma mau menceritakan dia dan teman kesepiannya, entah mengapa tiba2 aku teringat pada dia, tapi sudahlah kita anggap saja dia sebagi inspirasi menunggu pagi. Kau tau kadang2 tanpa sebab yg jelas, kita bisa saja tiba2 mengingat sesuatu atau seseorang, mungkin dalam bahasa lainnya di sebut firasat, firasat yg mungkin bermakna sesuatu, aku juga merasa begitu jangan2 terjadi sesuatu pada dirinya, aku berharap semoga dia belum mati. Kalau pun dia mati semoga catatan ini bisa menjadi sebuah pengingat atau paling tidak penanda bahwa dia pernah hidup di dunia ini.
Tentang dia.
Dia tidak begitu suka hal2 yang berbau komunitas, bergerombol dan hal2 yang berbau keroyokan, hal itu terbukti selama 12tahun makan bangku sekolahan dia tak pernah menghadiri acara tawuran. Pelupa adalah musuh terbesarnya, lupa nama teman adalah bencana terbesarnya dan sepertinya hidupnya dipenuhi oleh bencana itu, mungkin itu juga salah satu penyebab tak ada orang yang betah berlama2 menjadi temannya.
Dia suka sendirian tapi dia benci kesepian, sendiri dan kesepian adalah dua hal yang berbeda menurutnya, kamu bisa saja berada di keramaian tapi merasa kesepian, tapi kalaulah dipaksa memilih, dia akan memilih sendirian tapi tidak kesepian dibanding diramai tapi kesepian.
Bersambung................

0 Response to "catatan kecil binder puyak: Semoga dia belum mati."
Post a Comment
nurut lo?