ketika aku bersama mu

Duduk di pinggir sungai, menunggu sunset katamu, tapi kau hanya membelakanginya. jadi apa yang kau tunggu? bukan jingganya matahari sore? bukan. karena bagi mu matahari tidak begitu penting, tapi mungkin kau hanya sedang mencari suatu gambaran tentang tempat yang sempurna itulah yang penting, tempat yang sempurna untuk sejenak merenung, berharap dan menangis. merenungi 365hari yang telah terlalui,berharap akan esok yang lebih indah dan ceria tapi ketika sebuah harapan yang terucap tak lagi ada yang mendengar, ketika harapan hanya harapan yang sebatas angan yang tersimpan kuat dalam hati, hanya doa tempat dia mengalir. maka sebuah harapan yang terjelma dalam sebuah tulisan yang berwujud perahu kertas, hanya perahu kertas, aku pun awalnya terheran apa maksud mu dengan perahu kertas ini?

perahu kertas sudah cukup membuatmu terus berharap, bukankah itu suatu yang luar biasa. memaknai hal sederhana sungguh suatu kecakapan yang harus kita galakan kembali, ketika semua yang ku lihat serba otomatis dan matrealistis, kemampuan memaknai hal hal sederhana merupakan suatu kemewahan........

.......lalu kau terdiam.............

Menangis hanya untuk orang bodoh, katamu suatu kali ketika air bening asin mengalir dari sudut kelopak matamu. aku cuma mau bilang dunia ini memang di penuhi orang bodoh. Jadi menangislah tanpa rasa bersalah dan rasa bodoh, menangislah karena kita manusia. ya? gimana rasanya? lega bukan? ya aku tahu itu. dan aku tak kan bilang2 kalau kau menangis...



1 Response to "ketika aku bersama mu"

  1. thanks ya uDa Mau Jd Orang Bodoh untuk Funee
    Thanks jg kaRna uda Mau merahasiakan Tangisan funee...

    ReplyDelete

nurut lo?