Hari ini gue males banget masuk kelas. Rasa bosan mendera gue, tadinya gue menghasud Nces dan Alfa biar ikutan bolos bareng gue. Tapi mereka berdua tidak bisa bolos kuliah. Alfa takut bolos karena dosennya killer sedangkan Nces gak bisa, karena dosennya cantik. Akhirnya disinilah gue, di bawah pohon beringin di samping kantin KITA. Duduk sendirian merenungkan makna hidup, mencari arah tujuan baru yang lebih lebih mulia dari mengerjai santi. Merangkai kembali obsesi yang sejati. Menelisik kejadian lampau yang menjentik hati. Gue sampai pada pertanyaan yang menghentakan jiwa gue. Siapa yang menciptakan gue dan apa tujuannya? Pertanyaan itu megusik jawaban yang melintas di pikiran bagai kepingan puzzle yang begitu berantakan dan tak mampu gue susun.
Gue berdiri memandang langit yang cerah memayungi bumi, memincingkan mata menatap arah datangnya sinar matahari, di sela2 daun pohon beringin. Jika langit dan segala isinya di ciptakan untuk mendukung kelangsungan hidup manusia, lalu manusia sendiri hidup untuk apa? Ketika gue kecil gue hanya di suruh belajar yang rajin biar bisa dapet sekolah yang bagus, terus setelah sekolah gue masih di suruh belajar yang rajin biar bisa dapet tempat kuliah yang bagus. Lalu setelah kuliah gue masih di suruh belajar yang rajin biar nanti bisa kerja di tempat yang bagus. Kalo sudah kerja di tempat yang bagus lalu apa? Apa masih harus kerja yang rajin biar nanti di kubur di pemakaman yang bagus. Gue baru menyadari bahwa betapa sempit pikiran gue. Gue terjebak pada kontemplasi tanpa ujung.
Sruuutttt! Gue habiskan teh botol lalu beranjak dari bangku kayu tempat gue meditasi. Gue suntuk banget, akhirnya gue putusin pulang. Gue masih harus ngecek kesiapan boil gue buat kontes besok.
***
Sesampainya di rumah gue langsung menuju garasi. Gue buka kain penutup mobil, terlihat sangar boil gue jazzy (gue akui emang gak kreatif).
‘Emang gak salah gue pilih bengkel Alfa buat dandanin jazzy’ Gue membatin, lalu gue hidupin mesin
‘Bruumm...bruumm...brummm...!’
lalu
‘Nyit...nyit..!’ apaan tuh! (gaya jaja miharja dengan mata jerengnya) ‘Sepertinya ada yang gak beres pada jazzy,’ gue membatin, lalu gue keluar, otak atik spion tapi gak ngefek (ya iyalaaaa...ye). Suara nyit nyit itu masih terdengar, di sela sela suara mesin yang menderu pelan. Lalu setelah posisi spion beres gue lanjutin dengan mengecek mesin. Gue buka kap otak atik mesin, aki dan ‘Aaaaaagrh...aaaaaagrh...!’ tiba-tiba badan gue di serang ribuan volt listrik tegangan tinggi. Lambung gue panas, pala gue serasa mendidih lalu semua pandangan menjadi gelap.
***
Dalam keadaan gamang mata gue terbuka, tapi bukan mata yang biasa gue kenal. Sekarang pandangan mata gue begitu jernih, begitu terang, perasaan yang belum pernah gue rasain dengan dengan mata gue sebelumnya. Dalam kebingungan gue. Tiba-tiba muncul cahaya terang menyilaukan, yang seketika menjelma menjadi sesosok pria tua yang serba putih. Ia memakai baju yang menutupi sekujur tubuhnya, seperti kain yang terlilit membentuk jubah putih, bersih, yang bersinar terang, yang sinarnya menyilaukan pandangan. Gue mencoba menutup mata, tapi tak bisa. Karena pandangan gue tidak lagi terhalang kelopak mata.
‘NIKO MARJONO!’ Pria serba putih bersuara.
‘Iya...ya..ya..say..say..saya.’ Jawab gue terbata bata, gue terkejut mendengar pria putih itu tau nama lengkap gue yang selama ini gue tutup-tutupi.
’Ka..ka..kam..kamu si...si...siap...pa..pa’ tanya gue tetap gagap, tapi pria putih hanya diam dengan ekspresi muka yang begitu dingin, seperti ekspresi seorang pembunuh profesional, gue jiper.
Walau masih dalam keadaan takut setengah mati, tapi sekarang gue sudah mulai bisa mengendalikan kata-kata yang terucap ‘Kamu siapa? Ada di mana? Semalam berbuat apa...Yolanda!’ Saking takutnya gue ampe nyanyi lagu kangen band. ‘Apa saya sudah mati?’ Tanya gue.
‘Waktu mu belum tiba!’ Jawab pria putih, dengan suara yang terdengar jelas tapi bukan melalui kuping gue, suara itu seperti langsung mengontak ke pikiran gue, gue tambah gak percaya dengan apa yang ada di depan mata gue, apakah ini mimpi?
Belum sempat gue cubit kulit gue, biar bangun dari mimpi aneh ini. Tiba2 sang pria putih itu membentangkan jubah putihnya dengan tangan kanannya. Seketika pandangan gue bagai tersedot masuk ke dalam jubahnya. Sesaat kemudian pandangan gue terasa pelan, terasa suasana yang begitu tenang dan menyenangkan.
Terlihat Langit biru gradasi jingga yang terbentang luas memayungi. pohon-pohon yang bertebaran di sepanjang lapangan rumput yang terlihat begitu segar tapi yang agak aneh pohon pohon itu walau semakin menjauh tapi tidak memendek, apa jangan-jangan gue berada di dunia datar apa ini bagian dari dunia paralel, pikir gue. di sekeliling terlihat buah2 ranum yang menempel pada tangkai2 pohon yang landai, yang di bawahnyavmengalir sungai2 jernih dengan ikan2 cantik yang berenang pelan. Lalu di atas pandangan gue sesekali melintas burung2 hijau nan indah, yang belum pernah gue lihat sebelumnya warnanya, bentuknya, seperti burung2 itu berasal dari negeri dongeng, atau malah dari surga. Semua sumber kenikmatan yang dapat tertangkap indra ada disini, mulai dari landscape yang membuat mata tak berkedip, sampai terbaran aroma wangi yang melebihi parfum2 merek kapak. Lalu tiba2 pandangan gue seperti di tarik, sesaat kemudian gue terlempar keluar dari tempat yang luar biasa indah tadi.
Tanpa berkata sepatah kata pun, sang pria putih kembali membuka jubah putihnya, tapi sekarang dengan tangan kirinya. Lalu pandangan gue kembali tersedot ke dalam jubahnya, tapi sekarang perasaan yang gue alami bertolak belakang dengan yang pertama. Seketika behembus uap panas yang sangat panas, sehingga ketika uap itu melalui mata, mata terasa kering karena kelenjar air mata telah habis menguap. Terlihat hamparan bebatuan yang menyala-nyala, layaknya ladang bara api. Tidak ada sungai2 yang mengalir di bawah pohon2 rindang, yang ada sepanjang pandangan hanya terlihat pohon2 berduri yang angker, yang menebarkan aroma busuk. Gue gak tahan melihat pemandangan yang mengerikan ini gue mencoba menutup mata tapi tak bisa sepertinya kelopak mata gue berubah Transfaran. Gue berada di puncak kengerian.
Lalu tiba-tiba pandangan gue kembali di tarik keluar. Gue gemetaran karena ketakutan, sekujur tubuh keringat dingin pucat pasi. Lalu sang pria putih berkata.
‘Itulah tempat mu kembali!’
‘Yang mana!’ Tanya gue cemas.
‘Kamulah yang menentukan!’
‘Aku mau masuk tempat pertama’ Pinta gue memelas.
‘Jika itu pilihan mu, kamu harus punya amal. Apa amal mu?’
‘Apa???’ Di tanya amal gue bingung, seingat gue amalan gue cuma pas gue ngasih uang ke pengamen itu pun gopek. Jadi gue cuma diem.
‘Kalau begitu tempat kedualah, tempat kembalimu’
‘Jangan...jangan! gue gak mau di sana, berilah kesempatan lagi biar aku bisa berbuat amal’ gue memelas dengan sangat, gue gak bisa ngebanyangin kalo gue beneran masuk tempat kedua. Gue menangis ketakutan.
Lama pria putih mendiamkan gue, pria putih mematung, gue gak berani bergerak, sekarang yang ada di pikiran gue cuma mami, gue belom siap kalo harus mati muda, bukan bukan karena gue belum ngerasain malam pertama, ada yang lebih penting dari itu, gue belom bisa berbakti kepada orang tua, terutama mami. “Mi maafin niko ya mi, kalo niko ada salah, emang niko keliatan cuek dan gak peduli sama mami, tapi sungguh mi Niko sayang mami, matipun Niko rela kalo buat mami, maaf mi, tuhan gak memberikan waktu lebih, untuk Niko nunjukin bakti Niko, papi juga ya maafin Niko kalo uda ngerepotin dan sering bikin pusing,” gue pasrah.
‘Tuhan telah memeberikan hidayahnya, engkau akan di beri kesempatan kedua. Kumpulkanlah amal sebanyak-banyaknya. Setelah ini tugasmu adalah menuntun seseorang pada kebahagiaannya ketika ia mendekati ujung perjalanan hidupnya’ Pria putih tiba2 bersuara.
‘Makasih om’ Tiba-tiba aja penyakit lama gue kambuh, cengengesan akut. Gue sadar gue dalam keadaan yang serius, tapi gue merasa tiba2 aja jadi akrab sama pria serba putih ini, perubahan sikap yang sungguh drastis, dari memelas kayak gembel gak makan tiga hari, seketika jadi kayak majikan dan pembantu (maksudnya, gue yang jadi pembantu, bukan gue jadi majikan) pembantu, begitu patuh tapi rewel.
‘Tapi bagaimana aku tahu siapa orang yang harus aku tuntun’
‘Kau akan di beri kekuatan, sehingga kau akan mengetahuinya. Tugas mu di mulai ketika pertanda itu datang. kita akan bertemu lagi ketika aku mencabut ruh dari jasadnya’
‘Mencabut ruh dari jasadnya!’ Gue mengulangi kata-kata terakhir sang pria putih, lalu sebuah informasi penting menjentik ingatan gue.
‘Jad...jad...di ka...ka...kau ma...ma...ma...laikat mamamamia, eh bukan mauut permatasari’ gue gelagapan.‘MALAIKAT MAUT!’ Teriak gue.
Gue gemetaran, sekujur tubuh dingin, pucat pasi, lalu pandangan gue berguncang dan semuanya sekejap hilang tanpa bekas. Gue tersentak terbangun. Badan gue basah seluruhnya seperti habis di guyur air. tangan gue masih gemetaran, bibir gue masih menggigil gemeretak suara gigi. Sejenak gue terdiam menenangkan diri, mengumpulkan nyawa yang sempat tercecer.
0 Response to "Pertemuan Gaib"
Post a Comment
nurut lo?