kemalasan=penyesalan=kesombongan
Dingin masih begitu terasa mengisi ruang ruang hampa di sekeliling ku. selalu dan selalu kemalasan ini muncul, kemalasan yang entah kapan bisa ku bunuh, dia terlalu lembut dengan bujuk rayunya yang menggoda di tambah memang jiwa yang tak sekuat tentara yang siap berperang maka jadilah setiap pagi ku berisi pertarungan pertarungan yang semestinya pada umurku yang sekarang sudah tak di perlukan lagi...lalu aku kalah karena telah tiba matahari menyapa aku yang masih terpenjara bantal, sungguh memalukan jika hal yang seharusnya menjadi kewajiban malah di tinggalkan untuk suatu yang sungguh sepele, hanya untuk perpanjangan waktu tidur aku telah melalaikan kewajiban pagi ku, dan seperti waktu yang terus berlalu penyesalan ku yang tiba tiba muncul ini akan segera berlalu dan terulang lagi... aku tak tau apa arti dewasa yang ku tahu aku belumlah menjadi manusia dewasa, masih betah dengan dunia kanak-kanak yang lepas dari tanggung jawab dan punya alasan absurb : akukan masih kecil..........tapi itu bukan lagi, itu seperti penghianatan kepada diri sendiri, elusan yang membawa kehancuran, kemalasan yang membunuh masa depan. jika kemalasan begitu besar dampak rusaknya dan itu pun sudah ku ketahui, mengapa diri ini tak cukup kuat untuk melawanya untuk membunuh kemalasan ini, kemalasan di pagi hari membawa penyesalan di sore hari.......tak begitu jelas maksud kalimat itu dan belum dapat di pastikan kebenarannya tapi hari hari ku sepertinya berlalu cepat tak berarti dan melelahkan jika di pagi harinya aku telah kalah dengan menghianati jadwal wajibku, bangun, minum 2 gelas air putih, sholat, senam pagi, mandi......jadwal yang sungguh sehat jika di lakukan dengan konsisten tapi karena selimut malam begitu melenakan jadilah jadwal itu di pangkas menjadi bangun-mandi, dan selanjutnya hanyalah di isi dengan ketergesahan yang berujung ke tidak nyamanan diri menjalani hari...jika aku sudah tahu akan dampak kemalasan mengapa aku tetap mengikutinya...entahlah mungkin aku ingin menyalahkan iblis, tapi mungkin juga akulah iblis itu.....aku yang masih terpenjara oleh ekspektasi berlebihan tentang kemampuan diri telah begitu terkejut ketika melihat dunia melaju begitu cepatnya orang-orang telah berkembang menjadi yang dulunya bukan apa apa sekarang setelah 3 tahun berlalu mereka telah menjadi seorang yang jauh berbeda padanya aku tak bisa lagi bercanda ala anak sekolah yang maen toyor toyor, pada nya aku di wajibkan menaruh menaruh hormat karena di baju kelabunya telah tersemat nama yang ia junjung tinggi, itu baru salah satu teman yang menjadi polisi, belum lagi yang lain., yang selalu membuatku iri tapi tak mampu berbuat apa apa, sekali lagi aku menyesal karena malas, dan selalu penyesalan yang terulang dan tak berarti, bukan seperti penyesalan yang menjadi tenaga baru untuk maju, penyesalanku seperti aliran air yang menggerus dinding............stop........mau jadi apa kalau ngomong pesimis terus terusan, ingatkah aku pun pernah merasa bangga pada diri ini, pernah berjalan begitu tegap karena bangga mencapai suatu puncak yang hanya sedikit orang mampu kesana, ya aku pernah seperti itu berdiri tegak merasa mampu mencapai segalanya dengan ketinggian tangan yang mampu menjangkau apapun, tapi sungguh setelah si malas muncul lagi temannya si anggkuh si angkuh ini menempatkan dirinya terlalu tinggi sehingga tak seorangpun mampu menjadi pendampingnya sebagai penyeimbang sampai ia tergelincir dan jatuh tak bersisah, kenapa dia jatuh, dia lupa bahwa sesuatu yang begitu sulit di dapat tidak harus selalu sulit di lepas, ini terbukti dari begitu panjang perjuangannya untuk mendapatkan sebuah tempat yang begitu nyaman tapi belum setengah waktu yang di butuhkan dari usaha mendapatkannya dia telah dengan sempurna melepasnya........dan menyesal seperti menyembelih angsa bertelur emas bukan bukan seperti itu bahkan lebih parah lagi ia melepaskan angsa bertelur emas begitu saja tanpa mendapatkan apa apa, apa sebutan yang pantas untuk orang ini bodoh dugu tolol kurasa lebih dari itu, pernah terbesit untuk menukar jiwa ini dengan mesin waktu atau botol aladin sehingga aku bisa kembali kemasa lalu dan kesalahan ini tak terjadi, jika aku lupa bahwa aku hidup di dunia nyata yang hal tersebut tidak mungkin adanya, maka dengan sisa sisa kepercayaan dan harga diriku ku mulai bangkit kembali mencari rel yang bisa ku naiki, dan akhirnya rel itu kembali ku temukan walau rel ini berbeda dari rel sebelumnya yang pernah ku lalui rel yang dulu begitu bergelombang layaknya roller coaster tinggi rendah cepat menegangkan dan adictif, sekarang relnya lebih datar dan lambat, tapi tidak ada pilihan lain karena bergerak lebih baik dari diam walau perlahan itu tetaplah suatu gerakan, dan selalu pada setiap perjalanan ku, aku selalu menemui seorang sahabat seorang yang juga sedang mencari seorang yang juga menjerit di dalam hatinya dan menunggu ada orang yang mendengar jeritannya dan sungguh itu membuatku bahagia karena paling tidak dalam hidupku aku berguna bagi satu orang, satu orang saja sudah cukup memberiku alasan untuk hidup hari ini, dan selama aku bisa aku akan selalu berusaha membuat dia kuat walau aku sendiri ragu apakah aku mampu karena aku sendiri tidak lah kuat, tapi manusia bukanlah matematika yang 2-1=1 manusia lebih rumit dari itu, seperti satu orang yang takut lalu berjalan melalui jalan sepi dan bertemu lagi dengan seorang yang juga takut, apakah mereka menjadi dua orang penakut tidak tidak seperti itu mereka menjadi dua orang yang setengah berani. ya memang logikanya tidak mudah di pahami seperti matematika tadi.....maka jika kamu merasa sedih carilah orang yang bisa kamu hibur, dan jika kamu sedang malas carilah orang yang bisa kamu semangati dan perhatikan apa yang terjadi,,,,,merasa "berarti" karena ada orang yang menanyakan diri mu ketika kau tidak ada, ada yang menelpon mu ketika kau terlambat, ada yang menanyakan masalah mu ketika kau murung dan sungguh kita butuh orang lain untuk buktikan bahwa kita ini ada.........dan itu semua akan terjadi hari ini semua peristiwa yang akan ku kenang di masa tua akan terjadi hari ini, dan mengapa aku masih malas untuk memulai cerita ini, atau mungkinkah kemalasan sudah menjadi ceritaku hari ini...........
0 Response to "kemalasan=penyesalan=kesombongan"
Post a Comment
nurut lo?