Anugerah yang terbuang




Imei sebenarnya bukanlah cucu dari embah, cerita berawal di suatu pagi yang masih begitu temaram, di sudut teras masjid, embah menjumpai suatu benda yang di balut handuk. Tak disangka benda yang pada awalnya cuma di sangka kumpulan baju kotor, milik pemudik yang kelupaan, memang waktu itu, lagi musim orang pulang kampung atau mudik lebaran pake sepeda motor, lebih hemat katanya, tapi itudia segala barang bawaan yang segitu banyaknya, di jejelin pada satu motor plus orangnya, jadi wajar saja kalo ada saja barang yang ketinggalan ketika singgah, tapi embah salah, itu bukan pakaian kotor, itu merupakan se orok bayi, diam, tenang bayi itu pulas tertidur. Embah langsung jatuh hati dengan bayi mungil itu, Embah yang waktu itu masih duren, duda keren, hidup sebatang kara, Jadi tanpa memperdulikan asal usul bayi tersebut embah langsung membawanya pulang. Lalu embah merawat dan mengasuh mei dengan penuh kasih sayang, sampai beranjak besar. Beberapa kali Embah berpindah tempat tinggal, dan imei pun selalu turut di bawa, warga yang baru mengenal embah tak pernah curiga bahkan menanyakan tentang status imei, mereka menyangka imei memang cucu embah, seperti yang selalu dia akui, dan kehidupan kedua beranak ini, walau serba pas pasan tapi sepertinya kebahagian tak pernah lepas dari raut wajah embah, Imei tumbuh menjadi anak yang rajin dan patuh.

Sampai pada suatu hari ketika imei berumur sepuluh tahun. Datang seorang wanita muda bernama Clara, ia mengaku sebagai ibu imei “ Saya sudah lama mencari anak saya...bertahun tahun saya di hantui rasa bersalah, maka izinkanlah saya untuk menebus dosa ini” Ucap embah menirukan ucapan Clara.
Semula embah ragu ragu. Sebab, saat datang, Clara berpenampilan menor dengar bau farfum menyengat. Tapi Clara mengutarakan berbagai alasan dan fakta fakta untuk menyakinkan embah kalau Imei adalah buah hatinya, embahpun luluh, Walaupun embah tak rela melepas imei, tapi hati kecilnya menolak untuk memisahkan anak dari induknya, walaupun embah telah mengasuh dan membesarkan imei, tapi embah sadar dirinya tidak berhak untuk menguasai imei, seberdosa apapun wanita ini, dia tetaplah seorang ibu, yang patut di berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
“Sekarang saya punya usaha salon di pulau sumatera, izinkan saya membawa imei, imei akan saya asuh didik dan saya sekolahkan yang tinggi” Kembali embah menirukan ucapan Clara. Embah sangat sadar dirinya tidak mungkin bisa menyekolahkan imei, walau embah sangat ingin imei memiliki masa depan yang cerah. Dengan pikiran kalo imei akan lebih bahagia dan terjamin masa depannya, embah pun dengan berat hati melepas imei untuk dibawa Clara ke pulau sumatera. Dengan catatan embah bisa mengunjungi Imei kapanpun. Lalu Clara memberikan nomer telepon dan alamatnya di sumatera.
Imei berangkat pada awal juni, menggunakan kapal laut dari pelabuahan Tanjung Periuk, keberangkatan Imei itulah kali terakhir embah melihat imei.

Selang seminggu dari kepergian Imei, rindu embah sudah tak terbendung, sekedarlah mendengar suara Imei akan cukup mengikis kerinduan ini. Tapi setiap kali embah menelepon tak pernah di angkat “Ada nada sambung, tapi tak pernah di angkat. kalo pun diangkat tidak ada jawaban” Jelas embah.
Yang di maksud embah telepon di angkat tapi tak sengaja. Hanya terdengar suara latar belakang, musik yang berisik. Embah sudah sangat cemas. Bayangan kalo Clara bukanlah ibu kandung yang baek atau malah dia bukanlah ibu kandung Imei, terus menghantui embah. Embah sangat cemas, bayangan tantang anak yang di pekerjakan macam macam kian menguat. Sebab cerita tentang anak yang di trafficking bukanlah hal baru.
Kecemasan embah semakin menjadi, merasa kurang yakin dengan Polisi, embah kemudian menghubungi LSM PIPPA (Pusat Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak). Yang di lakukan LSM itu adalah memastikan keberadaan Imei, tapi apa daya alamat yang di berikan Clara itu fiktif belaka dan nomer teleponnya pun tidak pernah aktif lagi. Embah putus asa, berbulan bulan embah mengitari pulau sumatera, berharap dapat bertemu imei. Tapi itu sia sia belaka Pulau sumatera begitu luas, untuk embah sebatang kara, berbulan bulan embah hidup menggelandang karena kehabisan uang dan bekal, Beruntung Embah bisa pulang dengan menumpang kapal pengangkut kopra. Embah telah pasrah, semuanya ia kembalikan kepada kuasa Allah, embah selalu berdoa suatu hari nanti, paling tidak sebelum ajal menjemputnya embah bisa bertemu Imei.

4 Responses to "Anugerah yang terbuang"

  1. po, ni cerpen tp juga penggalan novel y?,,
    tapi kalimat2 awal, po mw ceritain mbah nemu sesuatu tp lompat bahas mudik pake motor,, agak aneh coz malah lbh jlasin ttg 'mudik' na daripada 'nemu' na,,

    ato mungkin ra ja yg g ngerti seni nulis ^^
    maav yah ^^
    sukses bwt po!

    ReplyDelete
  2. itu cerita nyata?
    Sedih bener embah...
    bagus, puyak!

    ReplyDelete
  3. puyak crito'y m'ngharukan..,
    aq suka sm crito2 n buku non fiksi yg sesuai reality,, Lbh enak d'bco drpd crito fiksi perLu pnghayatan tuh hehe ^^

    ReplyDelete
  4. penghayatan nya dah baik....
    salam tuk mbah ya bro... :)

    ReplyDelete

nurut lo?