Autisme adalah cacat perkembangan syaraf dan spikis pada manusia, yang menyebabkan kelemahan atau perbedaan dalam berinteraksi sosial, komunikasi dan tingkah laku. Orang tua yang anaknya mengidap kelainan ini menempuh banyak cara untuk menyembuhkan anak mereka, mulai dari naik kuda, nyium lumba-lumba sampai mendengarkan lagu klasik pada anak mereka.
Selama ini gue sadar ada yang gak beres di organ vital antara dua kuping gue ini. Gue sering mengalami yang gue sebut Diskualifikasi reality, gue suka ketuker antara kenyataan dan khayalan. Gue seperti hidup di dua dunia. Kejadian yang sering gue alami akhir-akhir ini.
Pertama kalau gue fokus atau terlalu kuat membayangkan sesuatu, atau seseorang maka sesuatu atau seseorang tersebut, akan muncul seperti nyata di hadapan gue, dalam bentuk hologram. Menjadi screen saver dalam retina gue. Ini sangat menakutkan apalagi kalo gue habis nonton film horor Suzana, bisa jadi paranoid gue. Tapi untung gue cerdas, gue udah punya solusinya. Taara! Gue nonton miyabi, tapi solusi ini tidak sepenuhnya sempurna karena mempunyai efek samping yang sangat berbahaya, jika di lakukan secara berlebihan yakni: osteoporosisdengkulkropos. Seremkan? makanya baca aturan pakai (lho).
Keanehan kedua adalah ini: kalo gue liat genangan air selalu timbul hasrat ingin mengobok-obok itu air, gak peduli itu air kolam atau air comberan. Anehkan?
Tapi kesemua keanehan itu mulai jelas asal usulnya. Setelah nyokap gue cerita mengenai masa kecil gue yang kelam. Ternyata gue dulu pernah di vonis mengidap autism, begini ceritanya versi nyokap gue:
Waktu itu ketika gue berumur lima tahun, nyokap gue mendapati gue ngomong sendiri, lalu meningkat jadi ngomong sama meja, dinding, tiang, batu bata dan palu. Tapi karena nyokap gue berpikiran positif maka ia mengira gue punya bakat jadi insinyur bangunan. Sampai ketika ini terjadi.
Gue umur lima tahun : Hus...hus...(ngusir ayam) Eh itu apaan kayaknya enak, gue pegang anget-anget, gue colek dikit ’Nyam...’ Kok rasanya aneh, coba lagi ah’Nyam...nyammi’ tiba-tiba nyokap gue datang lalu teriak ‘NIKO JANGAN DIMAKAN ITU TAI AYAM!’ Nyokap gue panik gue di suruh ngunyah antibiotik, sabun detol. Lalu gue di bawa ke dukun (ini juga merupakan suatu keanehan kenapa juga harus ke dukun) yang terkenal sakti dan modern bernama Ki joko bego yang kemudian hari baru gue tau bahwa Ki joko bego adalah bapaknya Ences.
Melihat mulut gue yang berbusa Ki joko bego menafsirkan gue mengidap epilepsi, alias ayan, alias gila babi. Namun setelah mendengar penjelasan nyokap gue dan tanda-tanda pada tatapan mata gue yang kosong dan lidah gue menjulur-julur. Ki joko bego menyimpulkan bahwa gue mengalami gejala autism stadium awal yang setara orang mabok cinta yang liat tai kambing kayak kismis.
Alhasil gue di suruh pake panci di kepala gue selama dua tahun, gila! Tapi yang lebih gila nyokap gue setuju anaknya menjalani Therapitopipanci. Penjelasan logisick (logikanya orang sakit jiwa) : panci terbuat dari alumunium suatu materi padat yang tahan panas dan tidak memuai. Masih menurut dukun sakti nan bego, anak autism rohnya agak keluar dari kepala, jadi ilustrasinya kayak kotak korek api duren tiga yang ke geser dikit, sehingga tidak pas dan ada rongga kosong, yang mana rongga tersebutlah yang menjadi jembatan antara dunia imajinasi dan dunia nyata. Jadi menutup kepala gue dengan panci selama dua tahun di harapkan roh gue akan masuk seutuhnya kebadan gue, persis kayak kotak korek api duren tiga, yang kembali merapat dan menutup rongga tersebut dan memutus jembatan khayalan gue.
Menurut nyokap gue, setelah mendapat wejangan dari Ki joko bego, gue langsung di isolasi di rumah, selama dua tahun gue menjalani Homeschooling dan therapitopipanci. Dua tahun kemudian gue di therapi lagi dengan NLP (Neouro Logistik Program) memori gue tentang topi panci di Delete, dan di ganti dengan memori Joshua, ini menjelaskan keanehan gue yang ke dua.
Dan setelah itu semua, gue kembali ke kehidupan gue yang normal. Oke oke becandanya kepanjangan, tapi gue beneran ngerasa aneh belakangan ini. Mungkin karena kepala gue kebentur kali ya, jadi neuron2 gue jadi lemah. Ampe sekarang gue suka pusing kalo liat dewi persik goyang gergaji.
***
Keanehan itu berawal ketika gue mengalami goncangan dalam hidup gue. Benar benar tergoncang dalam artian harfiah.
Kesialan itu di mulai ketika gue bangun kesiangan.
08.45 gue liat jam digital, gue telat. Gue nggak sempet mandi, gue cuma ganti baju dan langsung keluar rumah tanpa sarapan.
Ketika gue melangkah kaki gue tersangkut, gue jatuh Buug! Pala gue membentur lantai. Baru gue sadari, gue salah ngikat tali sepatu. Gue bangkit benerin tali sepatu lalu keluar menuju garasi.
‘TIDAKKKK!’ Garasi gue kosong, gue panik lalu teriak ‘MALINNN AMBO KUTUK KAU JADI BATU!’ Ya gak lah, emang gue maknya Malin kudang apa. Yang bener itu. Gue teriak dengan sepenuh hati”MALIIIIIIIIIIIIIINNNNG”
Mendengar teriakan ‘Maling’ sekonyong konyong monyong warga berkumpul dengan atribut lengkap, ada yang bawa pentungan, batu bata, gergaji, palu dan berbagai alat pertukangan (belakangan baru di ketahui bahwa orang-orang ini emang lagi ngerjain bangunan gedung dekat rumah gue)
‘Ada apa...ada apa?!!!!’ Tanya warga yang cepat berkumpul.
‘Mobil gue ilang’ Jelas gue
‘Mana malingnya... Mana malingnya!’ Tanya seorang om2 kekar yang seketika mengangkat diri jadi pemimpin barisan.
‘Nggak tau, tau tau aja garasi gue kosong’ Jelas gue lagi.
‘Hmmmm...Begrrrrr....kalo ketemu itu maling saya gebukin ampe babak belur’ kata ketua barisan ‘Kita bakar sekalian!’ teriak warga memprovokasi.
Ketika keadaan ramai karena setiap warga mengungkapkan analisisnya masing-masing, ada yang bilang mungkin pencurinya orang dalem, karena pintu garasi tidak rusak sama sekali. atau mobilnya di makan tikus sampai habis tak bersisa, atau mobil gue bisa menyublim, hingga hilang di telan udara. Ada juga analisis yang paling ngawur yang bilang, mungkin tuyul atau babi ngepet (ada gituh babi bisa nyetir).
Tiba-tiba datang Alfa yang kebetulan melintas, lalu buru2 nyamperin gue dan nanya dengan nada super panik.
‘Nik! Ada apa Nik! Ada apa Nik!’ Lalu toleh kiri kanan ’Siapa yang mati! Siapa yang mati!’
‘Tenang Fa, kendalikan diri mu. Gak ada yang mati’ Jelas gue.
‘Trus kenapa rame gini’Kata Alfa.
‘Mobil gue di gondol maling Fa!’
‘HA! GAK SALAH LO!’ Sepertinya Alfa shock berat, mendengar mobil gue yang superkeren itu hilang, gue tau Alfa pengen banget minjem mobil gue, tapi gak pernah gue kasih, karena gue masih dendam dengan kata-katanya yang dulu, yang secara terang-terangan mendepak gue dari kursi Nebengers. Tapi harapan Alfa tinggal harapan. Boil gue yang superkeren telah tiada. Lalu dengan ekspresi bencong menggaet om2, Alfa melanjutkan.
‘Duh Nikoiiii...! Mobil lo khan masih di bengkel Akiyuuuuu...(catatan: Alfa mengucapkan kata ‘Akiyuuuuu...’ membutuhkan waktu selama lima detik dan mulut moyong lima inci) OON!’ Sialnya penjelasan Alfa membuat warga geram. Warga yang dari tadi lengkap dengan atribut buat gebukin maling, malah balik menatap gue dengan pandangan birahi tingkat tinggi.
PLAK! BAAK! BUK! BUUGHHH!
Hening.
Koeebeg...Koeebeg...Koeebeg...(suara kodok)
‘Ergggggh!’ Gue babak belur di gebukin warga. Pandangan gue berkunang-kunang.
‘Fa lo harus tanggung jawab!’ Rintih gue.
‘Salah lo, napa teriak2 gede, salah lagi’ Alfa berdalih.
‘Gue harus cepat ke kampus’ Jelas gue ke Alfa.
‘Nih, pake motor gue’ Ucap Alfa sambil menyodorkan kunci motornya.
‘Makasih Fa, kesalahan lo udah gue maafin’Ucap gue sambil nyamber kunci dari tangan Alfa.
Alfa bengong.
Setelah mendapat kunci motor, gue langsung nungging di atas motor. Tanpa helm, STNK dan SIM gue langsung tancap gas melaju di atas aspal yang panas.
Ketika Beberapa menit gue melaju tanpa di harap melintas Polisi Poliponic, ia berbalik arah mengejar gue. Sadar menjadi DPO(daftar pencarian orang), gue tancap gas. Jarum spidometer sudah mentok gak mau naik lagi. Pipi gue kembang kempis perut gue kembung, gue menjelma menjadi komeng.
Semua usaha gue keluarin untuk lepas dari kejaran Polisi Poliponic. Gue nikung dengan kemiringan 40o, angkat ban depan ‘Wheely’, nahan stang pake kaki sampe push up di atas motor. Tapi semua gaya free style gue nggak banyak membantu. Polisi Poliponic sudah menghadang di depan, sambil minum kopi dan makan gorengan tahu sumedang. Gue merasa terhina. Gue telah mencoreng motto: selalu terdepan. Tapi memang perlawanan gue gak seimbang, secara, tunggangan gue bebek bergigi empat sedangkan rival gue, Polisi Poliponic jadi joki macan 200 cc.
Polisi Poliponic menghampiri gue, untuk menambah kesan dramatis, itu Polisi Poliponic melangkah pelan, langkah kakinya di buat berat kayak dalam mode slow motion. Jadi mestinya jarak lima meter berasa lima kilo meter.
Dalam detik-detik yang menegangkan itu gue lihat di arah yang berlawanan perlahan mendekat om2 berambut cepak yang juga tidak memakai helm. ‘Ada temen nih’ gue membatin. Om2 itu semakin mendekat, tapi herannya walau nggak pake helm dan tau di depannya ada polisi Poliponic bermuka monocrome. Itu om-om tampak tenang dan melaju santai, sampai ketika jarak kira2 sepuluh meter. ‘Nah ini saatnya itu om2 akan di sapa oleh Polisi Poliponic dengan prosedur standar : Pagi pak, tahu salah anda, ada surat-surat.
Tapi tanpa di sangka ketika jarak sudah dua meter.
JGEEERRR!(Bom Bali meledak) itu om2 berambut cepak muka kotak, tersenyum simpul sambil mengangguk kecil, lalu di balas oleh Polisi Poliponic muka monocrome, dengan lambaian tangan lembut. Tanda mempersilahkan lewat. Om2 itu berlalu begitu saja tanpa terkena sangsi apapun. Gue benggong melihat adegan sinetron yang berjudul ‘Nepotisme’ itu.
’Oh Tuhan, aku tahu engkau melihat apa yang kulihat. Hanya engkaulah tempatku mengadu. Aku di zhalimi ya Tuhan’ Setelah berdoa khusuk gue beranikan diri untuk protes pada Polisi Poliponic muka monocrome(PPMM).
Gue : Pak kenapa itu om2 muka kotak boleh lewat gitu aja. Padahal nggak pake helm juga pak!!!???
PPMM : Itu karena rumahnya deket sini dek, masa deket sini aje harus pake helm. Rumahnya deket sini dek, Bapak aja tau rumahnya.
JGAAARRR! JGEEERRR! JGUUURRR! (Bom Bali II meledak)
Gue shock logika gue jatuh pontang panting jungkir balik, setelah mendengar penjelasan yang benar-benar tidak jelas kebenarannya. Masa dalam urusan tilang menilang aja terjadi diskriminasi, emang ada tuh namanya warga-boleh-tidak-pake-helm dan warga-yang-gak-boleh-gak-pake-helm, itu diskriminan namanya! Jiwa pemberontak gue keluar. Di saat begini gue berharap dari semak2 keluar: Jhon pantau lalu teriak ‘Nah ketaun ya!’ Dan PPMM pun jadi salah tingkah, mukanya memerah dan gue akan berkata ‘RASAIN LO!’ Lalu gue toyor2 kepalanya, lalu gue siram air keras. Tapi itu tidak terjadi.
Kesimpulan yang gue tarik dari penjelasan Polisi Poliponic muka monocrome adalah kalo lo kenal gue, lo aman.
Akhirnya gue di tilang dengan tujuh pelanggaran, Sial! Sial! Sial! Triple sial. Apa salah gue? Tiba-tiba hape gue bergetar, gue liat ada dua pesan menunggu.
INBOX : 1. Telah di temukan harta terpendam Soekarno, sebarkan sms ini ke 10 no. Maka secara otomatis pulsa anda akan bertambah 100rb. Jangan anggap remeh pesan ini kalau tidak anda akan celaka.
From : Ences
Received : 22.35 04/06/09
2. Hai Nik lo nggak sialkan hari nh???
From : Ences
Received : 09.00 05/06/09
‘APAAA!’ Setelah baca pesan tersebut tangan gue gemeter, lambung gue keroncongan, pandangan gue berputar-putar, gue kehilangan keseimbangan lalu semuanya gelap.
Pandangan gue terbuka, mula2 kabur, kemudian semakin jelas, gue sedang berada di jalan raya tapi ini bukan jalan yang tadi, apa jangan2 gue bisa teleportasi, yakni kemampuan berpindah tempat, dengan hanya membayangkan tempat tersebut. Gue bayangin kamar mandi cewek... tapi gak terjadi apa2 gue simpulin, gue gak bisa teleportasi.
Gue bingung apa yang terjadi sebenarnya, kenapa gue ada di sini, apa maksud semua ini. Di depan gue liat ada kakek2 tampak gelisah di seberang jalan, tampaknya dia mau nyebrang, lalu gue samperin ‘Mau nyebrang kek’ kakek itu hanya mengangguk kecil dan tersenyum lalu berkata dengan suara parau, “Siapa pedangdut yang paling hot?” Gue jawab, “Anisa Bakar” Oke, becanda. Tentu saja kakek2 itu gak ngajakin gue maen tebak tebakan.
Lalu gue menuntun si kakek2, menyebrang jalan, melalui zebra cross. Ketika mulai melangkah gue merasakan keanehan, tiap garis putih zebra cross itu seperti terangkat perlahan, melayang membentuk tangga yang meninggi menuju langit. Tapi gue tetap melangkah tampa gue sadari, gue sudah berada di ketinggian yang amat sangat. Semuanya terasa gak masuk akal. Kenapa tiba2 gue ada di sini dan tentang tangga ajaib ini mestinya gue panik, tapi kenapa sekarang rasanya gue maklum saja ada zebra cross yang berevolusi menjadi eskalator melayang, dan kenapa juga gue mau berbaik hati membantu orang tua nyebrang jalan, gue heran? Tiba2 kakek itu melepaskan genggaman tangan gue dan melayang, seperti di sedot oleh sebuah lubang cahaya.
Gue masih bingung semuanya seperti berjalan otomatis, tiba2 tangga2 putih itu jatuh berguguran, mulai dari tangga pertama lalu dengan cepat merambat ke atas, bak permainan mendirikan kartu domino. Gue panik, GUE BAKAL JATUH!.
‘TIDAAAKKKK!’
‘Jang! Sadar jang!’
‘Ibu’
Ketika gue sadar dan membuka mata ada Ibu2 yang tepo hari kita bantu, Ibu pipin. Ibu pipin berdiri di samping ranjang yang gue baringin.
‘Dimana gue? apa yang terjadi?’
‘Dek Niko tenang dulu, dek Niko ada dirumah ibu’ Jelas Ibu pipin ‘Dek Niko pingsang di jalan, untung tadi Ibu lewat, Polisi itu kewalahan melihat orang yang tiba2 ramai berkerumun, mengelilingi dek niko yang sedang pingsan, kebetulan ibu ada di sana dan mengenali dek Niko, jadi ibu pura2nya kerabat dek niko. Terus dek niko ibu bawa kesini, gak pa pa toh, karena ibu juga tidak tahu di mana rumah rumah Niko dan juga tidak tahu harus bayar pake apa kalo jadi ke rumah sakit.
“Motor saya” tanya gue tiba2.
“Ada di kantor polisi” jawab ibu pipin.
Lalu gue menjelaskan hal yang terjadi..bla...bla...bla.bla........bla... (gue gak ngomong kaya gitu, tapi itu demi untuk meringkas cerita)
‘Dek Niko, buru-buru banget emang ada apa di kampus’ Tanya Ibu
‘Gue telat’ jawab gue
‘Telat apa’ Ibu memburu.
‘Inah masuk kelas jam sembilan’ Jelas gue
‘Trus hubungannya apa’ Ibu tambah bingung, alisnya naik.
“Inah itu.....ah sudah la bu gak terlalu penting” gue urungkan niat gue untuk cerita tentang detail detailnya karena akan panjang dan ibu pipin pun belum tentu paham.
“Ya sudah kamu istirahat dulu disini, sudah makan?” Kata ibu pipin ramah.
“Belum bu” jawab gue jujur, karena gue bener2 kelaparan.
“Bentar ya ibu ambil sarapan dulu, tadi ibu bikin ketan”
0 Response to "Hari yang sial, Huh!"
Post a Comment
nurut lo?