Melepaskan diri dari keterikatan akan hal2 yang konsumtif beraroma idustrialis dan hal2 lain yang bercorak pemenuhan akan kesenangan sesaat, dan mampu hidup dengan kebutuhan primer adalah kemerdekaan sesungguhnya dari seorang manusia secara pribadi dalam lingkar terkecil kuasa diri. Untuk mampu mencapai tingkatan tersebut butuh suatu tekad yang besar, dan kuat, kosistensi yang sangat kuat dan intens, karena ketika keinginan itu muncul dan kesempatan itu terbuka begitu lebarnya, hanya orang orang yang telah lama berlatih menahan diri lah, yang mampu melewati ujian itu.
Sebuah kisah klasik mengulik ingatan untuk di siarkan: cerita tentang nabi Yusuf yang terlahir dengan begitu gantengnya, membuat cewek2 tergila2, ampe bedarah itu jari gak kerasa karena terpesona oleh ke gantengan nabi Yusuf. Dan seperti biasa setiap anugerah selalu di iringi oleh ujian. Dan Allah menguji nabi Yusuf dengan seorang wanita yang cantik jelita, Siti Zulaiha. Di rumah yang sepi ketika orang ketiga adalah iblis. Saat itulah nabi Yusuf menunjukan kwalitas dirinya, kwalitas seorang hamba yang keimanannya lebih besar dari nafsu birahinya. Dia menolak, bak kucing yang menolak ikan asin, sudah pasti itu bukan kucing biasa. Tapi situ zulaiha tak tinggal diam konaknya sudah di ubun2 dan dia terus menggoda nabi Yusuf dengan rayuan2 yang telah di bisikan iblis, tapi nabi Yusuf tetap pada pendiriannya, ia berontak bahkan sampai robek bajunya di tarik Siti Zulaiha yang sedang horny. Puyak tidak terlalu berharap bisa bertemu orang sekelas nabi yusuf di zaman bluetooth ini. Bukan Puyak tak percaya lagi ada manusia yang mulia, tapi puyak terlanjur takut karena terancam kecewa karena lelah berharap akan datangnya keajaiban itu.
Pencarian akan sejatian diri telah di mulai ratusan tahun lalu, para sufi menyendiri di dalam gua, mencoba menepis tirai tirai duniawi, untuk menemukan jarak terdekat dengan sang ilahi. Para biksu telah lama duduk bersila di kuil2 yang di penuhi asap dupa wangi. Polanya sama saja yakni sendiri, sepi, diam merenung, diam tak selamanya pasif, dalam diam para petapa sesungguhnya sedang berperang di dalam diri, antara logika kesenangan dan harapan akan kebahagiaan. Dan sebuah ucapan bijak pernah terekam telinga ”Perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri”. Ketika aliran air bening itu mulai membasuh jiwamu dan hati mu akan mulai mampu merasakan keberadaan yang yang sesungguhnya, keberadaan yang telah lepas dari keterikatan. Dunia telah mengelupas di mata mu. Dan ketertarikan akan hal yang fana mulai terasa hambar. Dan kembali seulas senyum misterius nan gaib itu muncul, senyum khas orang2 tua yang telah kenyang makan asam garam dunia. Senyum yang tak bermotif, senyum yang mencerminkan kemampuan pandangan hati melihat jauh ke depan, tahu sumber akan suatu sebab dan akibat, dan senyum itu tetap disana.
Bukankah rukun islam yang ketiga adalah berpuasa, yap! menahan diri dari makan minum dan hal hal yang membatalkan puasa dari terbit pajar hingga terbenamnya matahari. Kalo kita lihat sekilas ini sangat konyol, bagaimana mungkin semua yang ada di depan mata adalah halal tapi kita tidak berani menjamahnya: minuman yang manis dan dingin, makanan yang wangi dan lezat dan istri yang cantik dirumah, kenapa kita tidak berani melewati garis itu? ya karena kita sedang berpuasa, karena sesungguhnya ketika berpuasa kita sedang berlatih menahan diri bahkan pada hal hal yang halal sekalipun, dan logikanya kalo pada hal yang jelas2 halal saja kita mampu menahan diri, maka sudah sangat wajarlah kita mampu menghindari yang abu2 bahkan haram, tapi tunggu dulu manusia lebih rumit dari 1+1=2, karena terkadang buka puasa jadi ajang balas dendam, dan lebaran adalah perlambangan terlepasnya belenggu diri, ya itulah adanya kalo kita baru pura2 patuh layaknya pengendara motor yang tiba2 saja menjadi teladan kala pak polisi ada di sampingnya.
Seni menunda kesenagan, bukankah itu inti dari menabung. Menunda kesenangan sesaat demi sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat.
Dan akhirnya maukah kau bergerak bersamaku, memulai suatu yang kecil tapi berat: menahan diri. Tidak perlu semedi 40 hari 40 mlm di atas gunung, atau berdiam diri menyepi di pulau yang tak berpenghuni, karena itu terlalu berat, tidak juga puasa sepanjang hari, tapi cukuplah dengan mengosongkan pulsa hape mu selama tiga hari tidak menelpon tidak membalas SMS.
Bagaimana apakah kau mau, Em pasti temen2 bilang “Bodoh! Konyol! Sia sia!” ya bisa jadi itu benar, karena puyak juga belum tahu apa manfaat dari semua ini, tapi pikiran kita hanya seperti gelas yang harus selalu diisi air jernih ilmu pengetahuan, tapi lebih dari itu pikiran adalah sumbu yang harus dinyalakan. karena kita tidak tahu apa yang akan di hadirkan oleh pengalaman baru ini mari kita persiapkan diri bersama, atas cacian dan sangkaan pelit pulsa atau malah sombong.
NB: Dan maaf buat temen2 yang dalam 72 jam kedepan, yang menghubungi 085268509187, yang SMS nya tidak di balas2, melalui postingan ini pUyak minta maaf, karena puyak sedang latihan berpuasa.
Sebuah kisah klasik mengulik ingatan untuk di siarkan: cerita tentang nabi Yusuf yang terlahir dengan begitu gantengnya, membuat cewek2 tergila2, ampe bedarah itu jari gak kerasa karena terpesona oleh ke gantengan nabi Yusuf. Dan seperti biasa setiap anugerah selalu di iringi oleh ujian. Dan Allah menguji nabi Yusuf dengan seorang wanita yang cantik jelita, Siti Zulaiha. Di rumah yang sepi ketika orang ketiga adalah iblis. Saat itulah nabi Yusuf menunjukan kwalitas dirinya, kwalitas seorang hamba yang keimanannya lebih besar dari nafsu birahinya. Dia menolak, bak kucing yang menolak ikan asin, sudah pasti itu bukan kucing biasa. Tapi situ zulaiha tak tinggal diam konaknya sudah di ubun2 dan dia terus menggoda nabi Yusuf dengan rayuan2 yang telah di bisikan iblis, tapi nabi Yusuf tetap pada pendiriannya, ia berontak bahkan sampai robek bajunya di tarik Siti Zulaiha yang sedang horny. Puyak tidak terlalu berharap bisa bertemu orang sekelas nabi yusuf di zaman bluetooth ini. Bukan Puyak tak percaya lagi ada manusia yang mulia, tapi puyak terlanjur takut karena terancam kecewa karena lelah berharap akan datangnya keajaiban itu.
Pencarian akan sejatian diri telah di mulai ratusan tahun lalu, para sufi menyendiri di dalam gua, mencoba menepis tirai tirai duniawi, untuk menemukan jarak terdekat dengan sang ilahi. Para biksu telah lama duduk bersila di kuil2 yang di penuhi asap dupa wangi. Polanya sama saja yakni sendiri, sepi, diam merenung, diam tak selamanya pasif, dalam diam para petapa sesungguhnya sedang berperang di dalam diri, antara logika kesenangan dan harapan akan kebahagiaan. Dan sebuah ucapan bijak pernah terekam telinga ”Perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri”. Ketika aliran air bening itu mulai membasuh jiwamu dan hati mu akan mulai mampu merasakan keberadaan yang yang sesungguhnya, keberadaan yang telah lepas dari keterikatan. Dunia telah mengelupas di mata mu. Dan ketertarikan akan hal yang fana mulai terasa hambar. Dan kembali seulas senyum misterius nan gaib itu muncul, senyum khas orang2 tua yang telah kenyang makan asam garam dunia. Senyum yang tak bermotif, senyum yang mencerminkan kemampuan pandangan hati melihat jauh ke depan, tahu sumber akan suatu sebab dan akibat, dan senyum itu tetap disana.
Bukankah rukun islam yang ketiga adalah berpuasa, yap! menahan diri dari makan minum dan hal hal yang membatalkan puasa dari terbit pajar hingga terbenamnya matahari. Kalo kita lihat sekilas ini sangat konyol, bagaimana mungkin semua yang ada di depan mata adalah halal tapi kita tidak berani menjamahnya: minuman yang manis dan dingin, makanan yang wangi dan lezat dan istri yang cantik dirumah, kenapa kita tidak berani melewati garis itu? ya karena kita sedang berpuasa, karena sesungguhnya ketika berpuasa kita sedang berlatih menahan diri bahkan pada hal hal yang halal sekalipun, dan logikanya kalo pada hal yang jelas2 halal saja kita mampu menahan diri, maka sudah sangat wajarlah kita mampu menghindari yang abu2 bahkan haram, tapi tunggu dulu manusia lebih rumit dari 1+1=2, karena terkadang buka puasa jadi ajang balas dendam, dan lebaran adalah perlambangan terlepasnya belenggu diri, ya itulah adanya kalo kita baru pura2 patuh layaknya pengendara motor yang tiba2 saja menjadi teladan kala pak polisi ada di sampingnya.
Seni menunda kesenagan, bukankah itu inti dari menabung. Menunda kesenangan sesaat demi sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat.
Dan akhirnya maukah kau bergerak bersamaku, memulai suatu yang kecil tapi berat: menahan diri. Tidak perlu semedi 40 hari 40 mlm di atas gunung, atau berdiam diri menyepi di pulau yang tak berpenghuni, karena itu terlalu berat, tidak juga puasa sepanjang hari, tapi cukuplah dengan mengosongkan pulsa hape mu selama tiga hari tidak menelpon tidak membalas SMS.
Bagaimana apakah kau mau, Em pasti temen2 bilang “Bodoh! Konyol! Sia sia!” ya bisa jadi itu benar, karena puyak juga belum tahu apa manfaat dari semua ini, tapi pikiran kita hanya seperti gelas yang harus selalu diisi air jernih ilmu pengetahuan, tapi lebih dari itu pikiran adalah sumbu yang harus dinyalakan. karena kita tidak tahu apa yang akan di hadirkan oleh pengalaman baru ini mari kita persiapkan diri bersama, atas cacian dan sangkaan pelit pulsa atau malah sombong.
NB: Dan maaf buat temen2 yang dalam 72 jam kedepan, yang menghubungi 085268509187, yang SMS nya tidak di balas2, melalui postingan ini pUyak minta maaf, karena puyak sedang latihan berpuasa.
0 Response to "Latihan puasa"
Post a Comment
nurut lo?