Gue kuliah, tapi gue gak mau mengaku sebagai mahasiswa? Psikologi apa yang melatar belakangi pikiran dan jiwa gue itu, sehingga merasa label mahasiswa sama dengan penghinaan diri. Setelah mendalami perasaan yang selalu muncul itu gue akhirnya menemukan fakta fakta kecil mengenai mengapa batin gue ini menjerit ketika diri ini selubungi dengan kata mahasiswa, mungkin lo pernah naik kendaraan umum, masuk ke layanan layanan publik atau bahkan keseminar seminar. Disana hanya ada dua kategori tiket, yakni untuk mahasiswa dan untuk umum. Dan belum ada sejarahnya tiket untuk mahasiswa lebih mahal ketimbang umum.
Perbedaan yang mencolok antara apa yang di sebut sebagai mahasiswa dan non-mahasiswa bukan saja pada biaya layanan umum saja. Aktifitas dan prilaku kedua golongan ini pun berbeda. kalau golongan umum identik dengan pola kerja-istirahat-kerja-istirahat-liburan-kerja-istirahat, golongan kedua identik dengan pola kampus-ngeceng-game-gitaran-mall-gitaran-ngeceng-game-smsan-gitaran-pacaran-pacaran-pacaran-pacaran-pacaran-pacaran ditambah beberapa demontrasi, tawuran dan sedikit diskusi dan sisanya baru baca buku. Gue amat malu menjadi mahasiswa karena golongan ini identik dengan kaum lemah, lemah iman, lemah finansial. Dan mengenai demo itu sendiri, para mahasiswa harusnya menyadari bahwa masyarakat terancam lelah melihat demonstrasi yang mulai lebay. Jangan biarkan masyarakat kehilangan simpati karena opini yang berkembang bahwa penyebab keterlambatan pemulihan ekonomi ini ternyata sepele saja: demo.
kalau lo menyebut kata mahasiswa maka yang langsung terbesit dalam benak gue adalah kata ini: pengemis, orang2 yang minta di kasihani. Berapa banyak mahasiswa yang masih menjadi pengemis dari saudara dan orangtuanya?
meskipun mereka di golongkan sebagai pengemis mereka tetap bangga dengan profesi itu. terbukti ketika gue menanyakan ke teman2 gue di kampus “apakah anda bangga sebagai mahasiswa ?” maka sebagian besar teman gue menjawab dengan mantap “ya saya bangga”
Teman saya sebutlah si okin, ia seorang mahasiswa berbadan sehat. kalau kekampus bawa mobil pribadi atau kalo tidak naik taxi. Di tangannya selalu tergenggam smart phone seri terbaru dan netbook selalu siap di tasnya. Setelan gaul dengan semua yang melekat di badannya adalah brended stuff. Namun kesemua itu hanyalah milik babenye. Gue cuma membatin, “Gue cuma pengemis....pengemis.”
“Sayang aku tahu kita tak banyak bicara kau jauh disana ku menyimpan tanya, sayang aku tahu kita tak banyak bertemu namun hanya kamu yang ada di hati...jangan...jangan...kau lukai hati ku, aku resah lalui waktu tanpa mu...” Hape gue bersuara tanda ada SMS memaksa masuk dan langsung gue buka:
INBOX : 1. Hi Nik lagi dmn lo? buruan telpn gua, PENTING!
From : Ences
Received : 08.12 04/05/09
Ternyata ada SMS dari Ences, minta di telepon, huh! ini bocah, walau pun bukan keturunan onta padang pasir, pelit nya bisa lebih parah dari onta padang rumput (emang ada?), tapi karena gue adalah tipe cowok yang baik hati yang rajin menabung dan tidak sombong apa lagi sumbing, gue telpon juga si ences, walau gue tau arti kata “PENTING!” yang di tulis ences itu cuma kamuflase buat nyebak gue biar nelpon, dan walaupun gue juga sadar percakapan yang akan terjadi ini bakalan lama dan tidak bermutu tetep saja akan gue jalanin, karena gue lagi boring dirumah. Telepon pun tersambung.
Gue :“Halo...ya ces, da pa?”
Ences :“Sebelumnya minta sori, gua gak da pulsa buat nelpon lo”
Gue :“Yaaaaa!”
Ences :“Jadi gini.....Alfa udah hubungi lo gak?”
Gue :“Blon...emang ada apaan?”
Ences :“Gini tadi Alfa nelpon gua, trus minta di jemput gua, dia minta di temenin datang ke acara kondangan gitu deh, nah gak tau napa, hari ini mobil gua lagi ngambek, gak mau idup, jadi gimana? bisa gak lo gantiin gua, gua gak enak sama Alfa, gua uda janji”
Gue :“Ya udah kalo gituh sekarang gue ke rumah lo, trus abis itu kita jemput Alfa”
Ences :“Canggih lo! oke deh thanks ya, gua tunggu lo, agak cepetan yak”
Gue :“Iya bawel amat sih!”
Tut tut tut tut............
Sesampainya di depan rumah Ences, gue langsung merinding berasa masuk areal pekuburan. Gue memacu mobil lurus, langsung parkir depan garasi rumah Ences. Rumah ences jenis rumah gedong tiga tingkat (gue sempet berpikir kalo ences bangun satu tingkat lagi dia bisa punya usaha ternak burung walet,hehe), dengan halaman depan yang cukup luas, halaman ini di tanami beberapa kembang kaya, kembang melati, anggrek dan kembang kamboja.
Gue pencet klakson “Poommm!” Ences langsung keluar mendengar klakson mobil gue.”Eh Nik! cepet juga lo nyampe rumah gua, tadi gak pake nyasar dulu kan”, “Nyasar! emang gue si Alfa yang suka lupa lupa lupa lupa inget (lupanya sengaja gue bikin banyak untuk menjelaskan tingkat kepikunan Alfa yang sudah sangat kronis).” Gue baru mau turun, Ences sudah buka pintu mobil gue “Nik kita langsung pergi aja ya, dirumah gua juga gak da siapa2, gua gak enak kalo Alfa lama nunggu” Kata ences, “Oke kalo gituh kita caw sekarang!”Kata gue, dan di jawab ences dengan gaya Dora the explorer mengajak boots si monyet gaulbersepatubot untuk bertualang,“Let’s Go!” Kita pun meluncur.
Sesampainya di rumah Alfa, gue langsung di sambut oleh bokap Alfa yang sedang asik menata taman.
“Duh dek niko, dek ences lama gak maen kesini, mau ketemu Alfa ya?” Kata Bokap Alfa, bokap Alfa ini emang suka maen tuduh, bisa aja kan ences datang kesini bukan mau ketemu alfa, mungkin saja ences datang kesini mau ketemu dengan bik Sutri, pembokatnya Alfa. Karena gue curiga, ences bela belain hubungi gue buat dateng di mari, ya kalo gak naksir dengan bik sutri apa lagi, hehe. Makanya jangan suka nuduh2 gitu dong, kalo salah kan situ juga yang gak enak, tapi kali ini bokap Alfa lagi beruntung jawabannya bener.
“Iya Om, Alfanya ada?” Jawab gue dan ences.
“Ada! langsung aja ya ke dalam, om lagi sibuk nih biasa beres2 taman, kalo gak di pelihara bisa kayak rambut ences jadinya, hehe”
“Maksudnya Om?” kata gue.
“Ya berantakan, hehe” kata bokap alfa.
“Haha” Gue tertawa dengan jumawa, ences cuma mesem2 gak enak.
“Misih om,” Kata gue dan ences berbarengan.
“Ya silahkan”
Belum juga gue pencet bel, pintu sudah terbuka dan yang membuka pintu adalah seekor anak paus yang sedang terdampar di rumah alfa. Anak kecil ini gendut putih, pipinya melendot dan rambutnya model batok kelapa, mirip banget dengan alfa. Gue sampai ngira ini adalah anak haram hasil hubungan terlarang ences dan alfa, tapi tidak mungkin karena tanda tanda genetik bawaan ences sama sekali tak nampak, bocah ini sungguh mirip dengan alfa tapi dalam ukuran mini. Gue jadi berpikir, jangan2 sebenarnya alfa adalah keturunan ikan hiu sehingga punya sifat partenogenesis, yakni dapat melahirkan tanpa melalui kawin, waaaah! Gue jadi pinter.
“Hi! Niko! Ences!” Teriak alfa yang baru saja keluar dari kamar, sambil pegang catokan.”Eh, ayo masuk dulu, bingung ya nik? nih kenalin keponakan eke dari bandung namanya popo” Alfa langsung tahu isi hati gue, Oh ternyata bocah gelonggongan itu keponakannya si Alfa, pantes mirip2. “Hai popo, duh lutuna,”Kata gue sambil nyubitin pipi popo yang kaya jelly, kenyal banget, gak kaya ences pipinya alot, hehe. “Popo liat sini” kata gue sambil melempar tulang, dan popo pun mengejar sampai keluar taman, gak deng canda emang popo anjing dalmatian apa,hehe. popo pergi ke kamar alfa, melanjutkan permainan gamenya.
“Duh...thanks ya kalian udah mau dateng” Kata alfa, sambil nyalamin gue dan ences. “Ah fa lo jangan lebay gituh dong, biasa aja, sesama teman itu emang harus saling membantu, ya kan ces!”kata gue. “Bah! Betul itu,” jawab ences kompak.
“Ya kalo gitu, gimana kalo kita langsung pergi aja” kata alfa tiba2.
“Oke” kata ences.
“Oke” kata gue, sambil liat alfa, gue menangkap ada yang berbeda pada alfa hari ini, sesuatu yang di luar kebiasaannya.“Eh Fa! tumben pake baju warna coklat, coklat tanah lagi, lo tambah mirip Garfield” kata gue ke Alfa, “Lagi pengen aja” jawab Alfa singkat, sambil ngeloyor masuk mobil. Gue heran karena hari ini penampilan Alfa agak berbeda, hari ini Alfa pake baju kaos batik motif mega mendung.
Alfa emang punya dua warna pavorit buat baju, kalo gak pink, ungu. dan ini ada ceritanya lho, mau denger kan? iya iya iya (kata adek2 play group sambil pegang buku). Ceritanya gini, dulu ketika warna pink masih begitu tabu buat kaum adam, alfa yang sudah lama memendam rasa ingin memiliki baju pink merasa malu juga kalo harus terang2 beli buat diri sendiri, tapi gimana alfa udah kebelet pengen pake itu baju pink, maka alfa datang menemui orang pintar yang serba tahu itu, alfa nemuin gue,hehe. kita pun ngobrol ”Gu gaga gi gu gi gu gaa gu ga gu” kata gue, dan di jawab alfa ”Gagi gu gu ga ga gi gu gi” Lalu kitapun menuju mall terdekat.
setelah sampai di mall kita langsung masuk ke distro, tanpa ragu alfa langsung mendekati embak2 pramuniaga(ep) yang sedari tadi senyum2 ngira kita berdua hombreng.
Alfa : permisi embak saya cari baju nih buat pacar saya.
Ep : badannya kaya gimana
Alfa : ya...sama kaya saya
Ep : oh...kalo mas biasa pake ukuran apa
Alfa : XXXL
Ep : ya...mas pilih2 dulu, nanti kalo udah ketemu yang modelnya pas, baru saya carikan ukurannya.
Beberapa saat kemudian....
Alfa : ini embak saya mau yang kaya gini, tolong ukuran saya ya.
Ep : Oh...warna pink ya, pasti ceweknya cantik.
Alfa : iya doong!
Ep : pacar mas yang mau pake baju ini cowok apa cewek?
Alfa : cowok!
tapi itu dulu, sebelum aming si pinkboy booming, sekarang alfa malah tampil lebih cewek dari cewek karena dia punya rulemodel, madam ivan.
“Om kami pergi dulu ya, makasih atas minumannya” kata gue, padahal niat gue itu buat ngejek si Alfa, masa tamu baru dateng sudah di suruh pergi aja tanpa di kasih minum atau apa lah kek, duren kek. Dasar katrok!
“Oh iya sama sama, jangan kapok2 ya maen kesini lagi” kata bokap alfa ramah.
“Pi! Alfa jalan dulu ya” kata alfa sambil mencium punggung tangan kanan bokapnya.
“Ya kalian hati2 ya di jalan, cek dulu bensinnya tar kehabisan di jalan bisa repot” kata bokap alfa, “Ya om.” kata gue singkat.
Dalam perjalanan, kita melintasi jalanan yang di kiri kanannya banyak pedagang kaki lima, mulai warung kopi semi permanen, penjual kembang, sampai toko assesoris yang jual gelang, kalung, topi, kaos bola ampe boneka, bonekanya pun gede gede, buset dah ini trotoar udah jadi kaya mall, semua serba ada.
Ciiiitttttt!!!!!! Gue reflek ngijak rem.”Set dah! Itu ibu2 gila kaliya...ngerem mendadak gitu, gak tau apa!? gue lagi bengong!” Hampir aja spakbor belakang motor itu di cium bibir jazzy.”Ah! nih orang gak tau aturan banget sih, udah tau jalanan sempit gini, pake berenti tengah jalan gini.”Gue gondok, jalanan jadi macet.”Ada apa Nik?” Ucap Alfa dan Ences hampir bersamaan.”Di depan ada motor ngerem mendadak”kata gue. Motor laknat itu di kendarai oleh Ibu2 dan seorang bocah ingusan yang sedang kesurupan.
“Ayo kita keluar kita samperin”Kata Alfa.
“Gak usa Fa, lo tetep disini, biar gue dan ences yang keluar”Niat gue sih awalnya pengen marah2 dengan si ibu, yang telah membahayakan nyawa orang lain dengan ngerem mendadak. Tapi gue urungkan. Terlihat ibu2 itu sedang berusaha keras membujuk anaknya untuk tidak menangis, anaknya kayak kuda liar, lompat lompat sambil jerit jerit gak jelas. jangan2 anak itu beneran kesurupan, untung gue bawa Ences.
“Ces...”
“Napa Nik?”
“Gak jadi ah...”
“Aneh lo...”
Gue tadi sebenarnya mau bilang “Ces lo liat anak di depan itu, kayanya dia lagi kesurupan deh...cepetan lo pangil temen lo itu, suruh keluar,” tapi gak jadi, gue takut ences marah, dan bilang “Ya tar gue keluarin terus gue masukin ke lo, MAU!!!”
Gue kasian juga liat ibu2 itu yang kewalahan ngadepin anaknya yang terus saja guling2 di aspal. Karena gue tipe2 cowok yang sensitif kalo denger dua kata: Ibu dan repot, gue pun menghampiri ibu2 itu bersama ences, gue ngajak ences kali aja beneran kesurupan. Gue pun bertanya ramah bak kak Seto sang pemerhati anak.
“Anak ibu cacingan!” Ibu itu pun menjawab “Tentu saja tidak, kan ada combantrin!” Oke, becanda. Tentu saja gue gak nanya itu.
“Bu anaknya kenapa?”
“Ini dek, tadi mau beli boneka yang di sana tuh” ibu itu berkata sambil menunjuk ke arah toko assesoris yang baru aja kita lewati.
“Oh...kenapa gak di beliin aja” kata gue.
“Pipin ini maunya boneka kucing yang paling gede, tapi ibu sedang gak bawa uang.” Jelas ibu itu. Oh, nama bocak ajaib ini Pipin toh, gue pun membujuk anak tersebut untuk diam. “DIEM LO! MAU DIEM GAK! MAU DIEM GAK! GUE BANTING LO!” Gak deng becanda, masa gue bilang gituh emang gue psikopat. Gue bilang.
“Adek kan cowok...masa cowok maennya boneka, cowok tuh maennya..... yoyo” bujuk gue, sebenernya sih awalnya gue mau bilang “Adek kan cowok...masa cowok maennya boneka, cowok tuh maennya PS3 atau Xbox” tapi gue urungkan takut bocah itu minta di beliin.
“Gak mau! Gak mau! Pipin maunya boneka gede! Boneka gede” pipin tambah kesurupan.
“Yang mana” tanya gue.
“Yang itu! Yang itu! Yang gede” Pipin terus menangis, tangan kirinya menutup muka sedangkan tangan kananya menunjuk sesuatu tetapi berputar putar.
“Yang mana?”
“Yang itu” kata Pipin, mungkin karena matanya yang telah sembab karena dari tadi nangis, atau emang karena Alfa mirip kucing raksasa. Pipin dengan mantap menunjuk Alfa yang lagi senderan di mobil. “Itu ma! Pipin mau kuting raktata!”
“HAHAHAHA...HAHAHAHA...” Kita bertiga, gue, ences dan ibu itu pun tak mampu menahan tawa, dan akhirnya dengan jumawa tertawa “MUAHAHAHA...MUAHAHAHA...” ences tertawa lepas sampai pegang perut, tapi langsung kena tampar karena perut ibu itu yang ia pegang.
Gue jadi kenalan dengan ibu itu, dan Pipin jadi lupa dengan boneka raksasanya karena ikutan tertawa ketika kami tadi tertawa. Alfa emang kadang kadang mirip kucing, Matanya bersinar seperti mata kucing kala gelap. Tapi Alfa suka gak terima kalo dibilang mirip kucing. Alfa bilang “Emang gue kucing, gue kan gak pup di pasir”. Tapi abis ngomong itu, Alfa langsung ke dapur nyari ikan asin,hehe. Dasar kucing garong.
Kenapa juga Alfa bisa mirip kucing, padahal Alfa paling takut dengan kucing, Alfa bilang kalo kucing itu nyeremin, pabrik kutu lah, piaraan nenek sihir lah. Eh, tapi ini ada ceritanya lho. Mau denger? Jadi dulu, Alfa pernah sangat terobsesi untuk bisa hipnotis, bukan, bukan, Alfa belajar hipnotis bukan buat nyolong hape atau menghipnotis embak2 yang suka jalan sendirian sambil ngelamun. Alfa belajar untuk tujuan yang lebih mulia yaitu membantu orang yang punya masalah kayak depresi, stress, paranoid dan gak pede. Alfa pengen agar semua orang di sekelilingnya menjadi positif, mulia bangetkan si Alfa ini, cocok buat di bikin cincin, tinggal bolongin trus di kikir deh pake grinda (emang Alfa batu mulia, hehe).
Tapi untung tak dapat di raih, malang tak dapat di hindari. Di suatu pagi yang naas. Setelah berlatih 28 hari dan 48 jam atau biasa orang2 menyebutnya 30 hari. Alfa mulai memberanikan diri untuk mempraktekan ilmu hipnotisnya, tapi karena tidak ada kambing yang mau dihipnotis biar suka mandi, maka Alfa yang punya prinsip do it by your self man ini, langsung mencari kaca. Alfa nyari kaca bukan buat mencetin jerawat atau bedakan, walau gue udah lama curiga kalo Alfa suka bedakan pake terigu, hehe.
Pendek cerita, Alfa sudah berdiri depan cermin, matanya tajam menatap cermin. Alfa akan menghipnotis dirinya sendiri agar menjadi cewek, gak deng. Alfa menghipnotis dirinya biar gak takut lagi sama kucing, biar lebih manjur mantranya pake bahasa inggris.
I AM LIKE A CAT......
I AM LIKE A CAT......
I AM LIKE A CAT......
Alfa pun sukses menghipnotis dirinya menjadi mirip kucing Garfield, Gendut belang belang.
Perjalanan pun berlangsung lancar, dalam perjalanan Alfa cerita kalo dirinya disuruh ibunya gantiin buat menghadiri acara resepsi pernikahan temennya-temennya-ibunya-alfa. Tapi timbul keraguan dalam hati gue mengenai keselamatan diri gue dan jazzy, karena dari tadi kalo gue nanya jalan kamana atau belok kemana, alfa cuma bilang “Terus...terus aja...”, “Tenang kata mami acaranya tuh di lapangan di pinggir jalan raya, jadi pasti gampang kita nyarinya,” kata alfa.
Alfa bilang, kalo diye udah pernah sekali kerumah tante teman maminya itu. tapi sungguh malang tak dapat di halang, karena cuma mengandalkan memori otak alfa yang kapasitasnyanya cuma setara disket jaman jebot, inilah akibatnya yang gue takutkan. kami tersesat dengan sukses di tengah belantara kebun karet, sunyi sepi tidak ada tanda tanda kehidupan, hanya barisan pohon pohon karet yang rapi berbaris terjejer sejauh mata memandang. kami bagai tiga alien yang terdampar di planet linux.
“Duh nik bensinnya tinggal setetes nih” kata ences seketika melihat jarum pengukur bensin. “Ah! sial padahal tadi bokap alfa udah ngingetin” kata gue sambil menampar stir. Huh! kok gue jadi pelupa ya, apa jangan2 penyakit pelupa alfa ini adalah penyakit pelupa yang menular, dan gue telah terjangkit, sial.
“Gimana fa? Lo yakin ini jalan yang bener, di depan ada persimpangan, belok kanan atau belok kiri, dan lo harus jawab bener, karena bensin jazzy udah kritis banget, jadi kita gak bakalan bisa putar balik” kata gue ke Alfa. gue menjelaskan bahwa posisi kita sekarang telah masuk zona point no turn, yang artinya jika kita salah pilih jalan, kita bakal terancam gabung sama penduduk kubu, atau buntung kedua kaki dan tangan karena habis dorong mobil 120 kilometer.
Dan layaknya di pilem pilem horor, dimana ketika beberapa remaja dua pemuda, satu ganteng, satu jelek dan satu wanita, terjebak dan tersesat di hutan yang lebat. Kemudian muncul asap berkelebat dan entah dari mana tiba2 muncul seorang kakek2 bersuara parau berkata “Jangan kamu dekati hutan itu, itu adalah hutan terlarang, kamu bisa celaka...cepat pergi dari sini sebelum semuanya terlambat,” dan dia pun menghilang di telan kabut asap, serem abis.
Gue berpikir begitu karena, di depan kita ada seorang kakek2 yang entah keluar dari mana datang mendekat dan menghampiri kami. Gue cuma diem sambil memandang itu kakek2 yang membawa keruntung yang berisi kayu kering, alfa malah ketakutan badannya mengkeret kaya trenggiling, cuma ences yang berani, dan keluar menghampiri kakek2 tersebut, sepertinya ences sangat yakin kalo kakek2 itu tidak berniat jahat, bisa sajakan tiba2 dia ngeluarin obeng lalu nyongkel spion mobil gue, soalnya pernah kejadian tuh, tapi emang sih bukan di kebon karet dan yang nyongkel pun bukan kakek2 tapi bocah2 penghisab aibon.
“Misih kek, numpang tanya” kata ences pelan. “Iya leh...”kata kakek itu. “Gini saya mau tanya jalan ke.....Fa! kita mau kemana!?” Teriak ences ke alfa yang masih menggulung diri(mestinya mengiling diri alfa kan trengiling,hehe). “Desa papan tinggi kecamatan palu!” jawab alfa cepat. “Itu kek, kita mau pergi kondangan ke desa papan tinggi kecamatan palu, temen saya yang pernah kesana, yang gendut itu kek, tadi kepala kebentur pintu wc, jadi lupa lupa inget, anemia kayak gituh kek. Jadi kalo lewat jalan ini kami harus pilih jalan kanan apa jalan kiri ya kek?” kata ences mantap. “Oh, desa papan tinggi kecamatan palu.....itu kira kira lima kilo lagi leh, kalian ambil jalan kanan, lurus saja ada patung orang bawa papan gilesan, nah itu...” belum sempat kakek itu berkata, ences memotong “Itu desa papan tinggi ya kek?”, “Bukan itu mah desa papan gilesan leh, hehe. Kalo desa papan tinggi yang di sebelahnya” jelas kakek. “Ooh! makasih kalo gitu ya kek” kata ences. “Iya sama sama, cucu hati-hati di jalan ya” kata kakek itu lagi. “Ya kek.” kata ences sambil nunduk2 mohon permisi dengan kakek dan kembali masuk mobil.
Berkat kemampuan komunikasi ences dengan mahluk halus penunggu kebon karet, kita jadi berhasil menemukan jalan menuju desa papan tinggi. “Eh, itu ada patung bawa papan gilesan!” teriak ences ketika dia melihat sebuah patung yang sedang berpose bak peskateboard profesional dengan papan seluncur di tangan, tapi yang ini lebih tepat sebagai binatu profesional karena yang di pegang papan gilesan, hehe.
Dari tadi jazzy sudah batuk2 dan batuknya itu bukan sembarangan batuk, itu batuk karena tenggorokannya kering, dan minta di isi bensin. “Buset dah! Fa, Ces buruan turun dorongin jazzy, bensinnya habis” teriak gue seketika memerintah alfa dan ences untuk dorongin jazzy karena emang bensinnya udah kering banget.”Tenang Fa, kata kakek2 tadi, desa papan tinggi itu di sebelah desa papan gilesan, nah kita kan udah di desa papan gilesan nih, jadi lo lo pada gak bakalan lama dorong jazzy...ya kan? ayo buruan turun” rayu gue, karena dari tadi alfa sepertinya sudah bosan hidup dan pengen bunuh diri dengan makan jok mobil. “Iya iya...eke turun!” jawab alfa yang kemudian langsung bergabung dengan ences yang dari tadi sudah stand by di luar. “Ayo semangat! tu dua tu dua tu dua, tepuk pramuka pok pok pok!...pok pok pok” kata gue. Alfa dan ences pun menjadi bersemangat mendorong mobil sambil tepuk pramuka, pok pok pok!...pok pok pok!
***
Setelah menempuh perjalanan yang jauh di tambah jalan yang menanjak, tangan alfa dan ences terpaksa di amputasi karena terjadi kebengkakan yang parah pada otot bisep dan trisepnya, oke gue ngarang. Itu karena, ences dan alfa mendorong mobil sampai tiga kilo, dan keluhan yang keluar dari mulut ences dan alfa melebihi ocehan ibu2 yang tidak dapat jatah raskin, beras miskin. Ternyata ada satu fakta yang kita tidak tahu yaitu fakta bahwa desa papan gilesan sangat luas.
Setelah mendorong mobil sejauh tiga kilometer lebih, akhirnya kita sampai di desa papan tinggi yang juga luas. “Fa ces kita istirahat dulu, ngumpulin tenaga buat siap siap dorong jazzy lagi” kata gue dengan nada yang di buat sesimpatik mungkin, agar ences dan alfa tabah menghadapi ujian hidup yang sangat berat ini. “Tai lo Nik! lo enak bisa ngomong gituh, lo gak pernah ngerasain, gimana rasanya dorong mobil sama kebo” Itulah jawaban ences ketika mendengar ucapan gue yang simpatik itu.”Emang kenapa dengan kebo?” tanya gue. “Ah! lo masa gak tau kebo tuh hebatnya cuma pas narik gerobak, bukan dorong gerobak!” Gue manggut manggut. Takjub dan terkejut. Gue baru aja mendengar pendapat yang konyol, tapi gue emang belum nemu ada kebo yang bisa mendorong gerobak karena kebo memang selalu berada di depan gerobak, “Ya, jadi gimana ces?” tanya gue, minta saran. “Sekarang giliran gue yang di mobil, lo di belakang dan alfa kita kasih tali, suruh dia narik dari depan,” kata ences mantap. Alfa sama sekali tidak berkomentar mendengar usulan ences, karena dari tadi setelah istirahat dari kerja rodi, Alfa tidak sadarkan diri, pingsan dengan mulut berbusa.
“Fa fa bangun, kita sudah sampai!” Gue nabok2 muka alfa yang tebel kayak kue bakpau, “Lari! lari! lari! enci lari! awas! di belakang yei ada trantip! AWAS! AWAS! CEPAT NYEBUR KE KALI!” Teriak alfa, seketika gue kaget, ternyata alfa lagi mimpi di kejar2 trantip karena mangkal di taman lawang. “Fa bangun fa!” kata ences, ences turut membantu dengan menyumbangkan kaos kaki beracunnya ke alfa. “HATCHII!” Alfa bersin, ences buru2 nyimpen senjata rahasianya, kaos kaki beracun ke dalam kantong celana. “Fa bangun, ini di minum dulu” Gue langsung memberikan segelas minuman pengganti ion tubuh, dan sebutir kacang dewa, Alfa pun segar kembali dan siap bertarung pikolo.
Beruntung ketika kita semua sedang kehabisan tenaga karena mendorong mobil naik tanjakan, baru gue sadari kalo sudah naik tanjakan pasti kita akan turun melalui turunan, Gebleks! Itulah kenapa kita bisa lebih cepat sampai ke tempat kondangan laknat tersebut.
Kita sampai di tempat kodangan tersebut sudah agak siangan, jadi pas kita dateng orang2 sudah pada ngantri makanan dan salaman dengan manten.
Dengan stil yakin, gue memarkir mobil di pelataran parkir bermesinkan ences dan kebo bule, gue parkir jazzy di samping lapangan di mana hajatan tersebut berlangsung. Di depan tenda itu nampak umbul umbul yang terbuat dari janur. Lalu setelah mengisi buku tamu dan mendapat kipas mungil sebagai kenang kenangan. Kita, gue ences dan alfa langsung menuju ke tempat hidangan makanan.
“Eh, Ces. Apa nggak lebih baik kita salaman dulu sama pengantennya?” kata gue ke ences. “Nanti aja, Nik. Antrian masih panjang. Dari pada nggak kebagian makan, mending gak kebagian salaman kan?” kata ences mantap, sambil nyendok nasi pake centong. “Iya juga, ya.” kata gue, sambil memandang wajah ences dan alfa yang dari tadi sudah menunjukkan tanda2 busung lapar. Langsung saja tanpa banyak babibu tatitu jajiju, gue langsung ngambil piring dan ngatri di belakang ences dan alfa mengekor di belakang gue. Kita memunguti semua yang bisa di pungut, termasuk tisu yang ences kira kue lapis.
***
Setelah masing2 mendapatkan makanan, kita segera nyari tempat yang aman untuk menghabiskannya. Sekaligus tempat yang strategis untuk nambah2. ences yang tubuhnya kurus ternyata bagai bajai bermuatan puso, badannya kecil tapi makannya udah nambah tiga kali. Sedangkan alfa lebih milih ngabisin buah semangka, untuk mengembalikan cairan tubuhnya. Alfa emang paling demen buah semangka dan semua yang berbentuk semangka, alfa malah punya koleksi bola basket motif semangka, bantal semangka dan gantungan kunci bentuk irisan semangka. Antara semangka dengan alfa memang tak dapat di pisahkan. Kemana mana selalu berdua. Selalu akrab, seperti anak kembar. Maksud gue, muka alfa pun mirip2 semangka, bulet garis2 ijo.
Tapi mungkin karena terlalu bernafsu buat nelen satu semangka utuh, alfa jadi batuk2 sampai bersin.”HATCHII!” alfa bersin sampai biji2 semangka tersebut muncrat keluar dari lobang idungnya dengan kecepatan yang mengagumkan, melesat bagai meriam otomatis, alfa menembakan peluru2nya tepat kemuka ences, ences bagai bocah africa kena cacar, bintik2 hitam, ternyata hukum karma berlaku cepat disini.
”Ayo kita kedepan! salaman sama pengantennya” kata alfa sambil narik2 lengan gue, ”Entar lagi fa, kita ngaso dulu, nurunin nasi di perut” kata gue sambil duduk selonjoran. ”Iya fa santai saja, pengantennya gak bakalan lari ini, jadi santai men kayak di panti eh pantai” kata ences ngaco, sambil ngunyah2 semangka sisa alfa. ”Iya ya, kita nyantai dulu aja, lagian manten ceweknya gak keliatan juga, kemana ya?” kata alfa sambil duduk kembali. ”Ah, paling juga ke toilet, kebelet pipis” kata gue. ”Eh, Fa yang temen mami lo, yang manten cowok apa manten cewek sih?” kata ences ke alfa, ”Yang cewek ces” jawab alfa singkat. ”Oh” kata ences dengan angukan dan mulut setengah mangap. ”Emang siapa nama temen mami lo tuh....ALFAAA!” jerit gue ke alfa karena gue nanya dianya sibuk toleh kiri kanan, ”Eh, iya sori nik apa tadi lo bilang” kata alfa kembali sadar. Huh! kembali gue harus ulangi pertanyaan gue ”Emang temen mami lo entu siapa namanya?” kata gue. ”Oh itu namanya tante dewi, itu temen arisan mami yang udah lama menjanda, jadi ini pernikahannya yang kedua, tante dewi punya dua orang anak, emang sih eke belum pernah ketemu tapi cuma liat photonya pas maen keruma tante dewi, anak tante dewi itu caem caem loh” jelas alfa panjang kali lebar dan luas keliling lingkaran. Gue nanya nama doang, eh alfa jelasinnya sampai dua jilid, sekalian aja gue tanya lagi, biar alfa ngoceh terus, lumayan buat hiburan, secara musik om (orkes melayu) sedang istirahat makan, ”Fa ceritain sejarah kelahiran tante dewi ampe sekarang” kata gue mantap. Dan langsung di jawab oleh alfa ”SARAP LO!”
Setelah menghabiskan rokok dua batang, kita sudah siap untuk beranjak berdiri untuk menemui kedua mempelai demi memberikan selamat. Alfa masih cilingak celinguk liat kiri kanan, ”Napa fa lo kayak orang bingung gituh?” kata gue ke alfa, yang masih celingak celinguk dengan muka cemas. ”Iya fa lo dari tadi gua peratiin gelisah mulu lagi dapet ya!” kata ences sambil ngelus2 perut alfa, bak seorang suami siaga yang sedang mengantar sang istri yang hamil tua ke puskesmas. ”Enggak eke cuma heran, dari begitu banyak undangan yang dateng, kok gak da satu pun yang eke kenalin” kata alfa dengan wajah herannya. ”Masa gak da satupun yang lo kenal” kata ences, ”Mungkin karena sudah pada dandan dan pakai sanggul jadi lo susah ngenalinya” kata gue ke alfa, ”Iya juga ya nik, eke emang jarang datang ke acara beginian, memang ya kalo datang ke kondangan entu penampilan harus beda dari hari hari” kata alfa setelah mendengar analisis yang gue sampaikan, alfa pun kembali melanjutkan ”Enggak kayak ences, kondangan pake baju bola” kata alfa sambil melirik ke ences yang cuek. ”Tapi yang penting lo masih inget kan dengan wajah tante dewi” tanya gue mengklarifikasi, gak lucukan udah dateng jauh2 pake nyasar, mogok pula, eh nyampe sini salah tempat, kalo ada orang kaya gitu mending mati aja kali ya, hehe. ”Tenang kalo tante dewi eke pasti inget” jawab alfa meyakinkan gue. ”Eh tapi mana sih manten ceweknya kok gak keluar keluar apa kekonci di kamar mandi” kata ences sambil ngisep rokok kreteknya. ”Sabar ces, tar lagi juga keluar kita tunggu aja, lagian kita juga gak bisa pulang cepet2, bensin jazzy kan habis, jadi nanti kita cari bensin dulu” kata gue ke ences yang mulai tidak sabar, gue suka takut kalo ences ngoceh2 apa lagi sampe marah2 bisa berabe, kalo lo lagi deket ences dan ences lagi kesel jangan lo panas panasin, mending lo kipas kipasin biar dingin,hehe. Karena kalo ences sudah kesal sama orang bisa berabe orang itu bisa mati mendadak dengan mulut penuh karet gelang, karena kena santet. klenik abis.
”Nah itu manten cewek nya keluar” seketika ences teriak sambil nunjuk2 ke arah panggung, ”Oh iya itu tante dewi, masih muda ya, padahal udah janda,hehe” kata gue pelan, gue gak mau di dengar orang2 rame, entar gue di kira doyan sama janda lagi. ”Lho kok!” kata alfa dengan nada terkejut sambil jempolnya menunjuk tante dewi, eh salah alfa nunjuk pake telunjuk, eh tapi kok jari alfa jempol semua ya, hehe. ”Napa Fa?” tanya gue,”Ayo jangan bengong aje lo bedua, cepetan kita kedepan kasih selamat terus kita pulang” kata ences, sambil dorong2 punggung gue dan alfa. ”Tunggu! tar ces!” kata gue ke ences, ”kayaknya ada yang gak beres”, ”Apaan! ayo fa! jangan bengong aje lo” ences sewot, gue udah siap2 baca doa takut kena santet.
”Kita salah orang” kata alfa pelan, seolah alfa adalah seorang pembunuh bayaran amatiran yang telah salah membunuh target. ”HAA!” ences mangap sempurna, gigi2 hitamnya terlihat dengan jumawa. Ences mendekati alfa dan langsung nabok bahu alfa ”Gimana sih lo! kok bisa salah tempat” kata ences kepada alfa yang cuma bisa bengong bengong kayak bagong keseleg singkong. ”Eh jangan nyalahin eke dong” jawab alfa berkilah,”Bukannya yei2 pada, yang ngajakin berenti disini” kata alfa. ”Iya sih emang gue yang nyuruh berenti disini, karena ini kan desa papan tinggi terus ada orang kawinan pinggir jalan, apa lagi salahnya?” kata gue. ”Tapi lo gak liatkan! papan selamat datang di depan” kata alfa sambil menunjuk sebuah stirofoam yang tergantung di depan tenda. karena stirofoam itu membelakangi kami, gue gak bisa baca tulisannya, jadi kita bertiga jalan kedepan buat mastiin tulisan di depan itu yang ternyata:
SELAMAT DATANG DI PERNIKAHAN
NURHAYATI & FEBRIANSYAH
Gubrak! Gue pengen bunuh diri, tapi takut mati. Di saat begini gue berharap punya pintu ajaib, dan gue pun bisa pergi dari sini tanpa harus kehilangan kemaluan, karena telah salah tempat kondangan, tapi tidak. Gue gak secemen itu lari dari masalah apalagi niat bunuh diri, itu sama sekali gak keren, dan gue sangat yakin kalo gue keren. Yeah!
”Fa! ces! sini” kata gue, alfa dan ences langsung merapat. Kami bak pemain basket profesional yang sedang mengatur strategi menyerang. ”Kita harus tetap tenang dan cool” kata gue, sambil merangkul alfa dan ences, ”Iya tenang dan cool kayak kucing” kata ences yang langsung di lirik kejam oleh alfa. ”Oke” kata alfa. ”kita naik panggung seperti biasa aja anggep itu bener2 tante dewi, paling penganten pria mikir, oo...ini mungkin temen pengantin wanita. Dan pengantin wanita berpikir sebaliknya. Jadi aman, kan? Yang penting kita sudah kenyang...oke.” kata gue. Alfa dan ences mengangguk.
Begitu sampai di pelaminan, gue nyelametin si penganten, yang gak gue kenal itu. Gue salamin tangannya. Dia bilang, ”Terima kasih ya sudah dateng.” Lalu gue liat mata dia, kayaknya bahagia banget. Si cowoknya juga begitu. Gue turun dari pelaminan, menuju parkiran yang di ikuti oleh ences dan alfa di belakang.
***
”Sial banget ya kita hari ini, mana tadi udah nyasar di utan, ngedorong mobil ampe perut gue sixpack!” kata ences dengan nada kesal, sambil mengangkat baju nunjukin perutnya yang rata kayak papan gilesan. ”Udah lah kita ambil hikmahnya aja...kita sudah datang dan ikut membantu dan itu dapat pahala” kata gue, sambil merangkul ences dan alfa, ketika gue merangkul ences dan alfa badan gue jadi miring, tangan kanan ketinggian dan tangan kiri kebawahan, karena ences yang pendek kayak kelereng ada di sebelah kiri gue, sedangkan alfa sang bola voli kelebihan pompa ada di sebelah kanan gue. ”Membantu apaan!” kata ences dan alfa hampir bersamaan. ”Bantu habisin makanan!” kata gue. dan langsung di sambut oleh ences dan alfa dengan tawa yang tidak kompak, alfa yang badannya segede gajah ketawanya kayak tikus, hihihik...hihihik. Sedangkan ences yang badannya kaya priwitan ketawanya kayak gong, keras dan bergema2, MUAHAHAHAHA....
MUAHAHAHAHA.....hihihik.....MUAHAHAHAHA....hihihik....
’Eh lo bilang anak tante dewi caem caem, siapa namanya” kata ences ke alfa. ”Joko sama david” jawab alfa pelan, tanpa rasa berdosa.
”Hah!” ences keseleg.
***
”kalian pergi aja berdua gue nunggu di sini aja nungguin jazzy,” kata gue. ”oke deh! tapi lo jangan kemana mana ya, tar kita di tingalin lagi” kata alfa, mulai lagi lolanya gimana gue mau ninggalin mereka, bensin aja kagak ada, kalo ada pasti udah lama gue tinggalin. ”Iyeee! Bawel...buruan pegi...pake ojek noh” kata gue ke alfa dan ences sambil nunjuk ke abang ojek yang sedari tadi sudah menggoda alfa dengan klakson2 nakalnya. Alfa dan ences pun pergi mencari bensin dan gue nunggu di dalam mobil, ”Ah! sial batere low” kata gue sambil banting hape, gak deng masa gue banting blackbarry gue kan sayang. Disaat begini hape sangat di perlukan untuk teman menunggu, karena hape adalah teman menunggu yang baik. Tapi karena hape gue lowbat, jadi gue mati gaya dan bengong2 ngeliatan orang2 yang mulai beres2 di bawah tenda tempat acara resepsi tadi. Tiba2 pandangan gue terfocus pada seorang yang sedang melintas dan mendekati tenda tadi.
Gue tertegun, ketika pandangan gue tertuju kepada seorang pria setengah baya yang sedang mendorong grobak, pria setengah baya itu adalah seorang pemulung dengan tangan buntung sebelah kiri, pantes ada tali di ujung pegangan gerobak yang dia kalungkan dilehernya.
Pemulung itu berhenti di lapangan tempat hajatan salah alamat tadi. Dan dia sedang semangat semangatnya mengumpulkan gelas plastik bekas, di matanya gelas itu bak emas yang tercecer. Gue tertegun bukan pada kelakuan pria setengah baya yang lagi kasmaran sama botol plastik, bukan. Gue tertegun karena gue liat ada plat nomer polisi yang sengaja di pasang di belakang gerobaknya: JGN 93 MIS, entah benar apa atau salah, gue mengira tulisan itu berarti: Jangan ngemis. Kalo bener itu artinya pria ini orang yang hebat, penuh semangat pantang menyerah dan pantang menjual harga diri, luar biasa. Kekaguman gue semakin menjadi jadi ketika, pria paru baya itu selesai mengumpulkan gelas2 plastik sisa pagelaran pesta kawinan itu.
Ketika pria paruh baya itu berbalik untuk memutar arah gerobaknya, gue melihat tulisan yang benar benar membuat gue tertohok, benar benar tertohok: Kerja dong! kaya saya.
Buset rasanya setelah membaca tulisan itu, gue ngerasa jadi manusia yang paling gak berguna. Karena penasaran dengan kepribadian sang pemulung tangguh itu, gue tergoda juga untuk menghampirinya, gue punya ide biar gue bisa lebih tau mengenai isi kepala pemulung keren (Pk), gue nyamar jadi wartawan. Dan ketika gue menghampiri pria paru baya itu, terjadilah dialog ini:
Gue : Halo pak, pakabar saya dari majalah puyakmetro mau wawancara mengenai keseharian bapak sebagai pemulung profesional.
Pk : Boleh, ayo kita cari tempat yang nyaman buat wawancara.
Gue : Oke.
Stelah menemukan warung kopi kitapun melanjutkan sesi wawancara.
Gue : Menurut bapak pekerjaan bapak ini membanggakan atau malah memalukan.
Pk : Tidak ada pekerjaan kecil jika di lakukan dengan sepenuh hati.
mendengar kata2 itu gue langsung berasa pengen nraktir teh botol sosro buat bapak ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lumayan sep,,cerita tambahannya,,jadi lebih enak bacanya,,,cm kl bisa tanda bacanya atau pemishan katanya agak diperhatikan biar gak salah baca,,,
ReplyDeleteok,
keep try,,