Ruangan ini pengap laksana kamar yang terkunci puluhan tahun. Panas dan gelap sebab sirkulasi udara hanya melalui lubang lubang kecil fentilasi, seukuran jarum. Ruangan ini luasnya tak lebih luas dari rumah Lashi, anjing herder tetangga gue. Sempit karena ruangan ini dirancang hanya untuk satu orang. Sedangkan di sisi lain. Di ruangan yang lebih luas, di penuhi oleh dekorasi balon warna warni, lengkap dengan pita pita yang mengantung di langit langitnya, yang sesekali tersangkut kepala orang yang lalu lalang. Karena di ruangan lain ini begitu banyak manusia yang walau pun berpakaian berbeda tapi membawa satu aura saja: pesta. Orang orang ini ramai tertawa, bercerita sambil menyantap makanan dan minuman yang terlihat manis manis dengan warna yang menyala. Dentuman musik house tempo pelan membuat badan orang orang ini bergerak perlahan mengikuti alunan musik, tanpa sadar gerakan mereka seperti seragam, kaya orang lagi senam.
Dan disini di dalam kardus teve 29 inci ini, yang di sulap Alfa dan Ences menjadi kado raksasa. Gue terkurung terperangkap, mati kutu. Gue gugup, keringat tak henti hentinya keluar dari kening turun ke leher hingga terserap kerah, napas ku tersedat sedat karena kandungan oksigen yang sangat tipis itu sudah terkontaminasi oleh gas amonia.
Ences yang kurus item terlihat asik menyantap kue kue kecil, yang dia ambil dari atas meja panjang yang di penuhi makanan dan minuman beraneka ragam, meja panjang itu sengaja di letakan di tengah ruangan agar mudah di jangkau oleh para tamu yang sedang kelaparan. Gue melihat itu dari lubang pentilasi yang berupa lubang pensil, sehingga untuk dapat melihat keluar gue harus menempelkan wajah ke dinding kardus ini. Sial lama banget pestanya kapan nih sesi buka kadonya.
untung gue bawa hape, oh no hape gue lowbat.
ini mulai tidak masuk akal gimana bisa, hanya buat sebuah kata maaf, gue harus terperangkap dalam kotak laknat ini. Sial!
Gue ngatuk, mungkin karena suplai oksigen ke otak gue berkurang atau mungkin juga cadangan karbohidrad sudah begitu kritisnya di lambung gue atau mungkin juga gabungan keduanya. atau mungkin juga bukan ke duanya. tapi yang jelas sekarang gue ngatuk banget.
***
Yang pertama gue kenal adalah Inah, emang sih namanya kayak pembantu, pe-er-te gitu, tapi. Wooo! anda salah kalo menilai Inah tidak cantik, dan jika anda cowok, mungkin anda harus cepat berkunjung ke dokter spesialis mata, jika anda tidak jatuh cinta liat si Inah ini.
Pertemuan gue sama Inah sangat wajar, sewajar embun yang jatuh di pagi hari, perlahan tapi menyejukan dan berkesan. Pertama kali gue kenal dengan Inah, waktu itu gue lagi nongkrong2 sama Ences dan Alfa di kantin KITA. Gue ngobrol ngalor ngidul gak jelas sama alfa, sambil makan gorengan tahu sumedang. Dan ences yang sibuk ngocok kartu. Lalu di tengah obrolan yang gak penting itu, terdengar suara musik yang lumayan asik,”Dari manakah suara yang asoy ini” batin gue. Eh, ternyata di lapangan kampus sedang di adakan audisi nyanyi buat pensi (pentas seni). Gue terhipnotis dengan suara cewek yang sedang membawakan sebuah lagu berjudul Harmoni dari group band Padi.
Gue langsung cabut dari kantin KITA. Gue tinggalin Ences yang lagi maen kartu tarot dan Alfa yang lagi sibuk dengan tahu sumedangnya.
“Fa! Ces! Gue cabut duluan ya!” kata gue kepada dua bocah itu.
“Eh Nik! Yei mau kemana yei? ” Kata Alfa.
“Iya nik mau kemane lu? Belum juga gue lamar...eh...lamal...eh...ramal...Anjing! kenapa gue jadi cadel gini yak!?” Ences mulai kumat sakitnya, dari pada gue ketularan, mending gue cabut dan nyamperin cewek yang bersuara merdu itu.
Eem...dalam perjalanan ke lapangan kampus, gue jadi penasaran kayak gimana mukanya? Jangan sampai suaranya Jazz, eh pas ketemu mukanya Rock! kayak personilnya Kuburan band, bisa ilfill gue.
***
Dan baby cupit pun melepaskan panah asmaranya, gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Backsound: Gita gutawa
Hati yang berbunga pada pandangan pertama
Oh tuhan tolong lah aku cinta...cinta dia.......
“BUJUBUNENG! Cantik banget yak, tuh cewek.
Berkat bantuan salah satu temen gue yang jadi MC (master of ceremony) di acara tersebut, gue berhasil mendapatkan nope (nomer hape) Inah. Kemudian perjuangan pun di mulai. Di awali dari sms pura2 nyasar, lalu berlanjut dengan telepon2an di tengah malem (biar irit), dan sepertinya Inah pun memberikan lampu hijau, yang berarti gue udah bisa melanjutkan ke tahap yang lebih serius. Gue ajak Inah ketemuan, dan gayung pun bersambut, Inah mau ketemuan dengan gue, horai2, tuk timplak timplung... tuk timplak timplung, hehe. Gue girang.
“Kesan pertama adalah segalanya,” sebuah kalimat mutiara yang pernah di ucapkan oleh seorang sales parfum ketika berkunjung kerumah gue, dan itu emang bener. Kesan pertama yang baik akan selalu di ingat, jadi demi mendapatkan kesan pertama yang baik di hadapan Inah ku sayang. Gue akan melakukan persiapan secara maksimal di mulai dengan bangun pagi dan gosok gigi dan make baju terbaik gue.
Kita janjiannya jam tiga sore di dekat kolam ikan, yang ada di taman. Pertimbangan gue milih tempat ketemuan dekat kolam ikan, biar kita bisa ngobrol sambil ngasih ikan makan, hal ini dapat menghindarkan gue dari rasa nerpes dan mati gaya, paling gak, kalo gue lagi mati gaya (gak tau mau ngomong apa) gue tinggal lempar makanan sambil ngobrol ke ikan, kan asik guenya seneng, ikannya kenyang, hehe.
First date itu pun di mulai.
Inah datang dengan pakain casual, baju kaos putih plus kardigan warna hijau dengan bawahan jeans model pensil dan sandal rumahan. Inah emang udah cantik dari sononye kali ye, jadi walau pun pakaiannya sederhana untuk ukuran first date, tapi itu sama sekali tidak mengurangi aura cantiknya seperti saat pertama kali gue melihatnya waktu di panggung tempo hari, bahkan gue jadi lebih yakin kalo Inah adalah tipe cewek yang easy going, dan gue suka itu.
“Hai” Inah menyapa gue, yang sedang duduk di pinggir kolam ikan “Udah lama nunggunya”, “Gak juga” jawab gue. Lalu Obrolan pun mengalir lancar, ternyata gue gak harus gunain trik melempar pakan ikan.
Obrolan kita pun nyambung, kita bicara mulai dari hal2 umum kayak pilem yang lagi happening, atau gosip yang lagi hangat beredar dan di bicarakan ibu2 pe-er-te, sampai cerita2 tentang keluarga kita masing2.
Dan matahari pun mulai menguning, ini waktu yang tepat, pikir gue. Waktu senja selalu bagus buat nyatain perasaan, karena di waktu senja semua kondisi mendukung untuk terciptanya suasana romantis dan melo. Belum sempat gue ngongkang senapan, buat nembak. Inah sudah ngajak ngobrol lagi,“kamu suka musik gak?” kata Inah.
“Suka...tapi aku lebih suka baca buku, apalagi sambil di pijit” jawab gue.“Kamu suka baca buku gak?”
“Kadang kadang” jawab Inah pelan, sambil matanya menatap matahari yang perlahan bersembunyi, terlihat jelas Inah menikmati suasana senja, Ini saatnya.
“Kamu pernah baca bukunya Dee gak?” Tanya gue tiba tiba, sambil tak lepas memandang wajah Inah, setiap pergeseran kulitnya terekam jelas di mata gue.
“Enggak,” Inah cuma menggeleng, tapi woo! gelengannya, sedep bener di pandang, kepalanya menoleh sedikit kekanan lalu sedikit kekiri, anggun sangat, dasar yang lagi jatuh cinta.
“Masa dia bilang ada malaikat tak bersayap...” lanjut gue.
“Iya, ya.” Inah menjawab halus, tapi woo! anggukannya, gerakanya halus, lembut dan anggun, cantik sekali, dagunya yang lancip bergerak perlahan, keatas dan kebawah, manis sangat, emang kalo lagi jatuh cinta semuanya serba indah.
“Aku sih gak percaya tapi, pengen juga ngebuktiin” kata gue mantap.
“Ngebuktiin nya gimana, emang kamu bisa liat malaikat?” Inah terlihat bingung, keningnya agak mengkerut, sehingga tercipta garis garis halus yang melintasi keningnya, bak riak air di danau yang tenang, woo! cantik bener, bener2 cantik, inilah kalo orang lagi mabok asmara, dunia serasa milik berdua.
“Coba liat punggung kamu deh” gue mulai beraksi.
“Ada apa!?” Inah masih bingung di temani riak air di danaunya, tapi dia nurut, Inah berputar menunjukan belakang badannya.
“Ternyata emang bener ada malaikat tak bersayap” Ujar gue dengan nada di bikin seolah gue takjub.
“Ihhhh...! kamu bisa aja deh!” Inah langsung senyum2 malu, mukanya memerah, lalu Inah nyubit perut gue. Gue bales nyubit pipi Inah. Inah mukul bahu gue, gue bales pukul bahu Inah. Dia gantian mukul lagi. Gue gebok sekali lagi. Dia mukul lagi. Gue jambak rambutnya lalu mukanya gue benemin dalam kolam.
Kita pun jadian. Setelah gue jadian dengan Inah, gue jadi kaya raya karena banyak duit, sebab semua orang ngasih duit ke kita, kenapa? Ya karena dunia cuma milik kita berdua yang laen pada ngontrak,hehe.
***
Seperti biasa weekend ini bakalan gue lalui bareng, pujaan hati gue, Inah ku tersayang,hehe. Sudah dua minggu ini kita lagi demen2nya main di timezone, semua permainan kita cobain, dan Inah pun tak pernah canggung atau pun kikuk deket gue, bener bener easy going, gak ada istilah jaim jaiman, gue semakin cinta dengan Inah.
“Beib, habis ini kita kemana lagi” kata inah ke gue, setelah bermain di Timezone selama tiga jam dan Inah berhasil mengosongkan kartu member gue.
“Kita nonton yuk” Kata gue.
“Ada pilem pa beib, yang bagus?” Kata Inah, sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya, masih dengan napas yang sedikit terengah karena tadi baru aja maen sepeda, balapan dengan gue, yang tentu saja gue yang menang.”Ada pilem KCB.” Jawab gue, yang sepertinya tidak ia di pedulikan.
“Beib, kita cari makan dulu yuk laper nih” kata inah sambil toleh kiri kanan mencari tempat makan
“Ya udah, tapi nanti ya, sekarang kita beli tiket dulu.” kata gue pelan.
“Terserah sayang deh...” kata inah sambil memeluk lengan gue.
Setelah membeli tiket, kita pun pergi ke foodcourt, sesempainya di foodcourt kita pun duduk di pojokan, dan kita makan sambil ngobrol2. Dan begitulah hari hari gue di isi dengan semua kecerian bersama Inah.
ina,,inah,,,sini deh q bilangin,,
ReplyDeleteina,,ina,,sini deh q bisikin,,
q cinta padamu..padamu,,
oooo,,
q cinta padamu,,padamu...
cocok kan soundtrack nya???
mantaf beneur brooo...
ReplyDeletetp, protez dikt yaa..
awalnya lu kan dalem kotak kardus, trus.. ceritanya kok ngelenceng jauh bro..
hehe...