Di malam yang dingin engkau datang menggodaku, membisikan suara2 mesra nan nakal di daun telinga dan leherku. Dengan tangan2 kecil engkau menjelajah sekujur tubuhku. Menjamah kaki tangan lalu leherku, bergetar bibirku ketika bibir kecilmu yang sensual menancap di keningku lalu dengan perlahan ku angkat tanganku.
Plok!
Gue nabok kening sendiri. Bukanya nyamuknya mampus malah pala gue pening.
‘Ngiiiiiiiiing...nging...ngiiiiiiiiiiing’
Brengsek! gini nih kalo tidur di ruang terbuka ‘Plok!’
‘Nging..ngiiing’ kuping gue berdenging, kayaknya gendang telinga gue robek, bahaya kalo gini terus, muka gue bisa bonyok sendiri. Heran nyamuk2 kampung kok lebih gede dari nyamuk2 kota, apa karena nyamuk kampung lebih makmur dan lebih sehat secara darah yang di isap lebih bergizi, beda dari darah di kota yang telah terkontaminasi MSG dosis tinggi.
Tunggu dulu, tapi ada juga nyamuk2 yang kecil dan lebih pintar lebih susah di gepok, apakah ini salah satu fakta yang mendukung teori: orang yang badannya gede otaknya kecil dan orang kecil otak nya gede, tapi gue kira enggak. Logisnya nyamuk yang badannya gede, mempunyai beban lebih, jadi sulit bermanufer untuk menghindari gepokan, dan sebaliknya nyamuk yang lebih kecil lebih lues dalam bermanufer, sehingga lebih kecil kemungkinan mati tergilas tangan2 kasar. Teori gue ini juga berhasil mematahkan teori gue yang sebelumnya yang bilang: nyamuk jaman sekarang lebih pinter karena sudah ikut trening ‘Virus anti gagal’ sehingga nyamuk2 ini lebih jago dan pantang menyerah dalam jualan roti. Ah, gue jadi ngomong gak jelas.
Dalam kegalauan gue menghadapi gempuran nyamuk2 nakal. Gue perhatiin embah tenang2 aja, gue jadi penasaran apa rahasianya. Apa jangan2 embah bisa bahasa nyamuk lalu bicara dengan nyamuk ‘Eh nyamuk jangan gigit embah, darah embah udah pait gigit aja itu Niko yang darahnya masih manis asem asin kayak nanonano’. Karena penasaran gue hampiri embah.
‘Embah kok gak di ganggu nyamuk’
‘Emang ada nyamuk’ Sial nih embah sok sakti.
‘Iya embah dari tadi saya di keroyok nyamuk satu RT. Eh embah malah gak tau ada nyamuk apa rahasianya embah, biar gak di ganggu nyamuk’
‘Ini rahasianya’ ucap embah dengan tatapan sok misteriusnya ‘Kamu harus menyatu dengan alam’ jelas embah. Penjelasan embah jelas ngebuat gue gak ngerti, bingung. Apa gue harus duet bareng alam, lalu menyanyikan lagu embah dukun sambil goyang ngebor.
‘Maksudnya embah gue nggak ngeh nih’ Gue bingung sambil garuk pantat yang dari tadi gatel karena jadi rebutan nyamuk2.
‘Rasakan lalu satukan jiwa ragamu dengan dengan alam sekitarmu resapi udara yang mengalir di sela2 aliran nafasmu’ Wow! Gue berasa belajar tai chi, bagi lo yang belum tau tai chi itu apa gue jelasin ya! tai chi itu bukan lomba boker sambil ngeludah sekali lagi bukan. Tai chi itu adalah.... Bentar ya gue googling dulu... Buset pulsa gue abis... Jadi bagi yang mau tau apa itu tai chi cari sendiri ya, hihihi.
Lalu gue hirup napas dari idung lalu keluarin lewat kuping. Wow! Selai kacang keluar, gue lemes. Nyamuk tetap ngerubungin gue, seolah gue ini kambing guling di acara pesta reunian nyamuk2. Saran dari embah gak berhasil ngusir itu nyamuk2 nakal, gue protes ‘Embah kok gak ngefek!’
‘Harus kamu sadari nyamuk mempunyai sensor pendeteksi panas yang baik jadi walau gelap dia tetap bisa melihat dari panas yang terpancar dari tubuh mu. Jadi tenanglah menyatulah dengan alam turunkan suhu tubuhmu, maka kau tak akan terlihat oleh nyamuk’ Mendengar tips ‘menghindari gigitan nyamuk di kala gelap’. Gue coba lagi menenangkan diri duduk bersila bernapas teratur dan perlahan. Dan sungguh luar biasa hasilnya badan gue tetep bentol2. Nyamuk2 tetap nemplok di sekujur badan gue, gue makin frustasi yang liat embah tenang berbaring. Gila kalo gini terus, gue bakalan jadi zombie besok, mata gue bakalan berkantung karena ini udah lewat tengah malam dan gue belum tidur sedetik pun, dan tentu saja badan gue bakalan kurus, karena turun dua kilo, di sedot sama nyamuk2 rabies nan buas ini. Gue putus asa.
Ini lah akhir kesabaran gue, nyamuk2 nakal dengarlah ini, genderang perang telah di tabuh, musuh telah di tentukan, tidak ada istilah membunuh itu dosa, karena wahai kau nyamuk, walau kau mahluk ciptaan tuhan, kau telah mengganggu hak gue untuk tidur lelap dengan tenang, dan engkau telah mengambil darah gue dengan seenak congor lo. Maka rasakan lah ini senjata pamungkas gue: Mosquito Hitting Pat (baca: raket pembasmi nyamuk).
Gue pasang gaya batosai ‘Ciaaat...ciaaat’ percikan api dimana2, suara nyamuk2 nakal telah sirna berubah menjadi bau gosong yang sedap, sesedap rasa puas yang gue rasain setelah membasmi nyamuk2 buas itu. Dengan kibasan terakhir jatuh pula musuh gue yang terakhir, gue berasa satria baja hitam, dengan pedang mataharinya membasmi monster2 yang menyerang dunia (padahal cuma jepang yang di serang indonesia kagak).
ada hubungan sm cerita yg sebelumnya gak sep??
ReplyDeleteadalah pastinya, tapi ini udah agak2 ujung sih, jadi draf na sekarang masih, bolong2 kaya sindol bolong, puyak sekarang lagi mikirin tambalan yang cihuy,,,,perkembangan tren sekarang telah bergeser ke dominan kontemplatif, dan mengurangi metaforahiperbolis....novel nya aja belum jadi konsepnya udah gonta ganti,halah halah.
ReplyDeletepuyak..puyak...
ReplyDeleterara nh comen membngun na mana?
ReplyDelete